Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KASUS human immunodeficiency virus atau HIV di Kota Bekasi meningkat signifikan pada 2018. Bahkan di Jawa Barat, Kota Bekasi masuk peringkat ke-2 setelah Kota Bandung.
Ketua Umum Jaringan Indonesia Positif (JIP) Festika Rosani menyampaikan penyebab utama merebaknya kasus HIV ialah pola hidup masyarakat yang kurang sehat, terlebih akibat pergaulan bebas.
Di Kota Bekasi tercatat sekitar 1.000 jiwa terinfeksi virus HIV karena perilaku seks bebas dan penyalahgunaan narkotika menggunakan jarum suntik. Jumlah itu meningkat jika dibandingkan dengan 2017 yang mencapai 466 penderita HIV, 61% di antaranya gay.
"Memang perlu adanya perhatian masyarakat dan pemerintah untuk memerangi penyakit ini," kata Festika.
Dari data yang didapatnya, pihaknya bisa menemukan lima penderita HIV positif di satu rumah sakit. Rata-rata penderitanya ialah anak-anak yang tertular dari orangtua.
"Mereka tertular sejak masih dalam kandungan. Biasanya si ibu yang terkena atau dari si bapak," ujar Festika.
Untuk itu, ia berharap pada 2030 mendatang kasus HIV dan AIDS bisa hilang. Paling tidak, angka kematian yang disebabkan virus itu bisa hilang.
"Target kita, sampai 2030 Indonesia bebas HIV, tidak ada penularan dan tidak ada lagi diskriminasi terhadap penderita HIV-AIDS. Bagaimanapun mereka adalah saudara-saudara kita yang harus selalu kita support sebab kebanyakan dari mereka itu tidak mengetahui terinveksi virus tersebut," tandas dia.
Ibarat gunung es
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi Tanti Rohilawati membenarkan tingginya angka penderita HIV di Kota Bekasi di 2018 ini.
Dinas Kesehatan Kota Bekasi pun tidak menutup mata meski upaya pencegahan seperti sosialisasi dan pemeriksaan sudah dilakukan.
"Betul, itu pekerjaan rumah buat kami. Kasus HIV-AIDS itu seperti gunung es, bukannya berkurang, tetapi malah bertambah karena ini menyangkut perilaku masyarakat," ungkapnya.
Upaya pencegahan melalui sosialisasi dan pemeriksaan yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Bekasi sudah banyak dilakukan, misalnya, dengan melibatkan pegiat-pegiat HIV-AIDS yang ada di Kota Bekasi.
"Kita selalu melibatkan mereka. Kita juga ada kumpulan-kumpulan orang dengan HIV/AIDS atau ODHA yang terinveksi virus tersebut. Kita berdayakan untuk membantu konseling," kata Tanti.
Ia mengatakan, masyarakat jangan sampai mendiskriminasi para penderita HIV-AIDS. Hal itu disebabkan selama ini mereka juga yang membantu pemerintah dalam sosialisasi pencegahan virus tersebut.
"Karena itu, kita berharap masyarakat tidak menganggap virus tersebut adalah hal yang tabu sehingga untuk memeriksakan dirinya ditutup. Ini adalah tugas bersama Dinas Kesehatan dan pendampingan masyarakat," ucapnya.
Penderita yang telah terjangkit HIV memang bisa dilakukan pengobatan. Namun, pengobatan itu harus dilakukan selama seumur hidupnya. "Semua pengobatannya dibiayai oleh negara," ujar Tanti.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved