Masyarakat Bakal Beli Mobil Jika Ganjil-genap Dipermanenkan

Ferdian Ananda Majni
25/10/2018 19:34
Masyarakat Bakal Beli Mobil Jika Ganjil-genap Dipermanenkan
(ANTARA)

KEPALA Badan Litbang Perhubungan Sugihardjo mengatakan jika ganhil genap diterapkan secara permanen, masyarakat kemungkinan akan membeli mobil dengan plat nomor yang berbeda.

"Potensi itu ada. Jika permanen pasti akan beli mobil baru 30% sementara 40% tidak. 30% lainnya ragu-ragu," ujar Sugihardjo dalam konferensi pers di Hotel Mercure, Jakarta, Kamis (25/10).

Menurutnya, 90% masyarakat juga tidak setuju apabila kebijakan ganjil genap diterapkan saat akhir pekan. Terlebih, apabila diberlakukan selama 24 jam seperti saat Asian Games 2018 kemarin, penolakan menurutnya bisa mencapai 60%.

Kebijakan ganjil genap kendaraan bermotor di beberapa ruas jalan protokol di wilayah Jakarta dinilainya kurang tepat untuk jangka panjang. Oleh karena itu, sambung dia, patut dilakukan evaluasi guna mempersiapkan kebijakan-kebijakan lain yang saling terintegrasi.

Baca juga: Ini Dampak Positif Perpanjangan Kebijakan Ganjil Genap di Ibu Kota

"Kita mendorong kebijakan yang permanen seperti Mass Rapid Transit atau kebijakan parkir dengan sistem berbayar elektronik (ERP), sehingga teori push and pull jalan. Di push bagaimana menekan kendaraan pribadi menggunakan transportasi umum," terangnya.

Berdasrakan Survei Badan Litbang Kemenhub, ganjil genap menghasilkan kelancaran lalu lintas hanya pada rute ganjil genap tersebut. Namun, tetap mengakibatkan kemacetan di rute lainnya. Pihaknya mendorong dilakukannya peningkatan kualitas layanan angkutan umum. Dengan begitu, penggunaan kendaraan pribadi bisa dibatasi.

"Kemacetan lalu lintas pada rute lain itu orang beralih menggunakan angkutan umum. Ini bagian dari kebijakan pull and push policy. Sebelum lahir pembatasan yang permanen, kami dorong electronic road pricing atau sistem jalan berbayar," paparnya.

Dari survei yang dilakukannya, tercatat 24% pengguna kendaraan pribadi yang beralih angkutan umum. Dari data tersebut, yang beralih ke angkutan umum massal hanya 38%, yakni 20% menggunakan TransJakarta, 18% mengunakan KRL.

"Jadi angkutan massal adalah 38%, sementara angkutan yang bukan massal seperti taksi online 20%, gojek online ada 20%. Begitu juga taksi reguler sama-sama mengunakan angkutan umum 7,5%, dan motor 9%," pungkasnya. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya