Berharap Barang Panggulan Mengalir

Ardhy Dinata Sitepu
27/3/2015 00:00
Berharap Barang Panggulan Mengalir
(MI/Arya Manggala)
PARA pedagang sejak pagi mulai sibuk memindahkan barang dagangan mereka dari lantai dua ke lantai satu Pasar Inpres Cipulir, Jakarta Selatan, kemarin (Kamis, 26/3/2015). Setelah lima hari terendam banjir luapan dari Kali Pesangrahan yang mencapai sekitar 1 meter, area lantai satu pasar itu akhirnya bisa dibersihkan. Para pedagang berharap, rezeki mereka bisa mengalir lagi.

Doni, salah seorang pemilik kios yang menjual celana jeans mengaku omzet penjualannya menurun selama banjir. ''Kalau normal bisa dapat Rp4juta-Rp5 juta untuk 20 lusin celana per hari. Kalau banjir satu potong celana saja susah,'' keluhnya.

Tidak hanya pedagang, para kuli panggul pun berharap bisa kembali mengail rejeki dengan kios-kios di lantai satu yang dibuka lagi. Salah satunya Wahyu, 19. Setelah lima hari nyaris tak ada karung yang ia panggul, kemarin ia mulai mendapat permintaan angkut dari berbagai kios.

''Hari ini kegiatan di pasar sudah mulai normal. Pembeli masih sedikit. Tapi beberapa pesanan angkat barang sudah ada,'' ujarnya kepada Media Indonesia, kemarin.

Di hari biasa, Wahyu bisa mengangkat empat sampai lima kali karung berisi pakaian. Setiap karung beratnya sekitar 60-70 kilogram. Ia biasa bekerja tim dengan empat rekan lainnya. Sekali angkut, mereka dibayar Rp40 ribu untuk kemudian dibagi rata.

''Kalau lagi ramai bisa bawa pulang sampai Rp300 ribu. Tapi waktu banjir kemarin dapatnya seret, cuma Rp50 ribu,'' tuturnya.

Selama banjir, Wahyu mengaku terpaksa mengorek celengannya karena pengguna jasanya hanya sedikit. ''Waktu banjir saya ambil uang tabungan untuk makan. Kami juga sering utang di kantin untuk makan pagi dan siang,'' ungkapnya.

Padahal, uang tabungan itu ia kumpulkan agar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMA. Wahyu yang menjadi kuli panggul sejak tamat SMP terpaksa tidak melanjutkan pendidikannya karena ketiadaan biaya.

Meski kemarin Pasar Cipulir masih sepi pengunjung, Wahyu mengaku sudah mendapat pesanan jasa untuk Minggu (29/3) nanti. Ia berharap, uang jasa panggul yang didapat bisa membayar utang-utangnya di kantin.

''Kalau sudah ramai pembeli, banyak barang yang diangkut, baru kami bayar.''

Kuli panggul lainnya, Lepan, 38, menuturkan banjir di Pasar Cipulir bukanlah hal baru bagi mereka, karena kondisi itu sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu. ''Ini sudah biasa banjir dari dulu. Saya kan sudah lama di sini,'' kata Lepan yang sudah 22 tahun menjadi kuli panggul di pasar itu.

Karena itu, Lepan selalu menyiapkan uang cadangan untuk bertahan hidup selama banjir. Karena ketika pasar sepi dan terendam banjir, tak jarang ia harus pulang dengan tangan kosong. Padahal, bapak dua anak itu menjadi tulang punggung keluarga.

''Kami kan sudah nyimpen duit, ya diambil kalau banjir seperti kemarin. Duitnya buat makan,'' tukasnya.(J-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya