Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
RIBUAN remaja usia pelajar di Kota Depok terancam mengalami drop out (DO) alias putus sekolah. Mayoritas, faktor dari permasalahan ini ialah karena lemahnya ekonomi keluarga.
Wali Kota Depok, Mochammad Idris, menuturkan, angka tersebut didominasi ratusan pelajar di kawasan Kecamatan Sawangan.
"Iya benar, ada 500 di Sawangan kemudian ada juga di sekitar Cinere dan Limo," ucap Idris, Sabtu (22/9).
Menurutnya, secara keseluruhan angka anak putus sekolah di Kota Depok belum diketahui secara detail, tetapi Idris memperkirakan angkanya mencapai ribuan.
"Saya belum secara persis menghitung jumlah anak yang rawan DO tapi perkiraan sekitar 1.500 atau 1.700 yang rawan DO," bebernya.
Idris menegaskan, untuk tingkat kerawanan anak putus sekolah menurut pantauannya terjadi pada usia remaja yang rata-rata berstatus pelajar SMP dan SMA. Pemicunya rata-rata adalah karena faktor ekonomi.
"Kebanyakan faktornya masalah ekonomi, yang kedua tingkat kesadaran orangtua. Dalam beberapa kasus yang saya temukan, orangtua menganggap anaknya harus kerja. Ya semacam tulang punggung keluarga," paparnya.
Selanjutnya, untuk menanggapi masalah tersebut pihaknya tengah gencar bersosialisasi adan sistem jemput bola atau mendatangi langsung akar permasalahan.
"Waktu itu seperti kasus di Tapos ternyata memang orangtuanya tidak mengizinkan anaknya sekolah akhirnya kita dekati kenapa masalahnya karena biaya. Bukan sekadar biaya, kita bisa biayai anak ini tapi ternyata ibu itu membutuhkan anaknya untuk menbantunya bekerja, menopang ekonomi keluarga. Hal ini yang kita komunikasikan," tandasnya.
Idris menerangkan, rata-rata dari banyaknya kasus ditemukan, anak yang putus sekolah berada di tingkat SMA.
"Ada kurang lebih 700 anak, itu tingkat SMA semua. Tentu saja ini sangat prihatin dan kita tidak tinggal diam. Peran Basnas sudah kita arahkan membantu rawan DO, kita bantu juga anak-anak putus sekolah dangan kita sertakan dalam BKPDM untuk ikut paket-paket, seperti paket C. Itu yang paling banyak," pungkasnya. (Medcom/OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved