Blok G Pasar Tanah Abang hingga mau mendekati depan Stasiun Tanah Abang.

(Hym/X-6)
15/9/2018 09:20
Blok G Pasar Tanah Abang hingga mau mendekati depan Stasiun Tanah Abang.
( ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

KEPALA Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (DKUMKM) DKI Jakarta Irawandi sebelumnya mengimbau PKL di Tanah Abang tidak berjualan saat pembangunan awal sky bridge.

Namun, masih banyak PKL yang berjualan di badan Jalan Jatibaru. Sebagian sudah ada yang bergeser ke area trotoar karena terimbas proses konstruksi sky bridge.

Hunsa, 25, PKL Tanah Abang, mengatakan ia pindah berjualan ke badan trotoar stasiun per hari ini karena diminta pengurus PKL Jl Jatibaru. Ia mengaku belum mengetahui informasi dilarang berjualan selama pembangunan sky bridge karena tidak ada sosialisasi.
Andri, 31, PKL yang masih me-nempati area tenda, juga mengaku belum mengetahui aturan pembatasan waktu berjualan seperti yang diharapkan DKUMKM DKI Jakarta.

Kalaupun diusulkan supaya para PKL berdagang secara bergantian, ia menilai itu akan menimbulkan kerancuan atau kecumburuan di antara pedagang.

“Kalau si A yang kena jadwal dagang pagi terus-menerus sepi pembeli pasti protes karena yang B laris pas sore. Kalau memang mau diatur begitu, saya harap supaya diselingi. Hari ini A giliran pagi, besoknya dia giliran sore, jadi dirotasiin,” ujar Andri.

Andri berharap sky bridge bisa dilengkapi dengan fasilitas yang memudahkan warga atau pembeli mengakses area PKL. Kalau tidak, konsumen akan enggan naik ke atas. “Ya fasilitas lift atau eskalator. Kalau tangga batu, yakin deh warga enggak akan mau naik ke atas nenteng-nenteng barang belanjaan. Pembeli kita kan mayoritas perempuan usia 28-40 tahun,” terangnya.

Menurutnya, PKL pasti akan turun lagi ke jalan jika situasi di sky bridge sepi pembeli. Ia mewanti-wanti jangan sampai relokasi PKL Jl Jatibaru mengulang kegagalan penataan Blok G Pasar Tanah Abang.

“Misalnya di Blok G waktu renovasi oleh Jokowi kan turun lagi karena akses enggak mempermudah orang, jadinya sepi. Pedagang Blok G sudah pada lari (turun ke jalan lagi) tuh,” kata Andri.

Solusi lain, lanjut Andri, konstruksi sky bridge bisa tembus ke Stasiun Tanah Abang. Dengan begitu, penumpang kereta langsung bisa masuk ke area PKL tanpa harus turun terlebih dahulu.

Senada, Ari, pedagang Tanah Abang, berharap Pemprov DKI bisa belajar dari preseden Blok G agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Menurutnya, pengaturan atau relokasi PKL tidak hanya berkutat pada tempat, tetapi juga akses yang mempermudah mobilitas dan kegiatan jual-beli.

“Lihat nih Blok G jadi ‘pasar hantu’ kan karena kosong melompong,” ujar Ari saat ditemui di lokasi. (Hym/X-6)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya