Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
RABU (5/9) malam, Wihara Nimmala di Jalan KS Tubun, Kota Tangerang, Banten, dipadati warga. Tidak hanya warga Tionghoa yang datang untuk bersembahyang, tapi juga warga dari beragam etnis yang tinggal di Kota dan Kabupaten Tangerang.
Malam itu, Boen San Bio, sebutan lain untuk wihara itu, menggelar upacara pembakaran raja setan dan replika perahu naga. Keduanya terbuat dari bambu yang dililit dengan kertas berwarna-warni.
Kegiatan tersebut merupakan upacara yang digelar umat Buddha, yang diyakini dapat menyelamatkan para roh leluhur yang gentayangan karena tidak diurus dengan baik oleh keluarga dan keturunan mereka. Dengan pembakaran raja setan, mereka dipercaya bisa diantar menuju nirwana.
"Setiap tahun kegiatan ini kami gelar pada tanggal 7 bulan 7 kalender Tiongkok. Tahun ini jatuh pada 5 September," ujar ketua pelaksana upacara Ulambama atau Cioko, Niman.
Boen San Bio yang berada di sekitar Pasar Baru Tangerang merupakan salah satu dari tiga kelenteng tua di kota ini. Wihara itu menjadi tempat ibadah tridharma alias tiga penganut agama, yakni Buddha, Konghucu, dan Tao.
Beragam upacara keagamaan sudah digelar dan rutin digelar setiap tahun di wihara itu. Keramaian upacara dan padatnya pengunjung acap membuat jalan sekitar dilanda kemacetan.
Namun, seperti diungkapkan Hendrik, warga Kampung Pasar Baru, masyarakat tidak pernah merasa terganggu. "Warga bisa menerima kegiatan ibadah dan upacara yang digelar. Bahkan, warga merasa terhibur dan bisa menonton upacara yang unik serta menarik."
Hubungan sosial antara warga dan kelenteng pun berjalan baik. "Pemuka kelenteng sering menggelar kegiatan bakti sosial untuk masyarakat sekitar. Belum lama ini, pengurus wihara juga mengumpulkan dana untuk disumbangkan ke Lombok, membantu warga yang terkena bencana gempa bumi," lanjut Hendrik.
Alhasil, beragam keramaian yang digelar di wihara itu berlangsung damai, termasuk yang digelar Rabu malam. Padahal, dalam upacara Cioko itu, setidaknya ada 500 warga Buddha yang berasal dari wilayah Jabodetabek datang dan menyertakan foto-foto para leluhur mereka untuk didoakan.
Setelah didoakan, foto-foto dikumpulkan di atas replika perahu naga untuk dibakar bersama patung raja setan. Patung terakhir mimiliki tinggi 9 meter, dengan diameter 10 meter.
Upacara itu dipimpin sembilan biksu asal Tiongkok dan Indonesia. Umat yang berbaur dengan warga juga mengabadikan upacara itu dengan telepon seluler mereka.
Warga juga tak kuasa menahan gembira dan bertepuk tangan saat 20 pemuda keluar dari wihara dan menari mengitari bara api. Musik dan tubuh mereka yang meliuk-liuk dalam tari terlihat indah berpadu dengan jilatan api. Memupuk Kerukunan di Wihara Tua
RABU (5/9) malam, Wihara Nimmala di Jalan KS Tubun, Kota Tangerang, Banten, dipadati warga. Tidak hanya warga Tionghoa yang datang untuk bersembahyang, tapi juga warga dari beragam etnis yang tinggal di Kota dan Kabupaten Tangerang.
Malam itu, Boen San Bio, sebutan lain untuk wihara itu, menggelar upacara pembakaran raja setan dan replika perahu naga. Keduanya terbuat dari bambu yang dililit dengan kertas berwarna-warni.
Kegiatan tersebut merupakan upacara yang digelar umat Buddha, yang diyakini dapat menyelamatkan para roh leluhur yang gentayangan karena tidak diurus dengan baik oleh keluarga dan keturunan mereka. Dengan pembakaran raja setan, mereka dipercaya bisa diantar menuju nirwana.
"Setiap tahun kegiatan ini kami gelar pada tanggal 7 bulan 7 kalender Tiongkok. Tahun ini jatuh pada 5 September," ujar ketua pelaksana upacara Ulambama atau Cioko, Niman.
Boen San Bio yang berada di sekitar Pasar Baru Tangerang merupakan salah satu dari tiga kelenteng tua di kota ini. Wihara itu menjadi tempat ibadah tridharma alias tiga penganut agama, yakni Buddha, Konghucu, dan Tao.
Beragam upacara keagamaan sudah digelar dan rutin digelar setiap tahun di wihara itu. Keramaian upacara dan padatnya pengunjung acap membuat jalan sekitar dilanda kemacetan.
Namun, seperti diungkapkan Hendrik, warga Kampung Pasar Baru, masyarakat tidak pernah merasa terganggu. "Warga bisa menerima kegiatan ibadah dan upacara yang digelar. Bahkan, warga merasa terhibur dan bisa menonton upacara yang unik serta menarik."
Hubungan sosial antara warga dan kelenteng pun berjalan baik. "Pemuka kelenteng sering menggelar kegiatan bakti sosial untuk masyarakat sekitar. Belum lama ini, pengurus wihara juga mengumpulkan dana untuk disumbangkan ke Lombok, membantu warga yang terkena bencana gempa bumi," lanjut Hendrik.
Alhasil, beragam keramaian yang digelar di wihara itu berlangsung damai, termasuk yang digelar Rabu malam. Padahal, dalam upacara Cioko itu, setidaknya ada 500 warga Buddha yang berasal dari wilayah Jabodetabek datang dan menyertakan foto-foto para leluhur mereka untuk didoakan.
Setelah didoakan, foto-foto dikumpulkan di atas replika perahu naga untuk dibakar bersama patung raja setan. Patung terakhir mimiliki tinggi 9 meter, dengan diameter 10 meter.
Upacara itu dipimpin sembilan biksu asal Tiongkok dan Indonesia. Umat yang berbaur dengan warga juga mengabadikan upacara itu dengan telepon seluler mereka.
Warga juga tak kuasa menahan gembira dan bertepuk tangan saat 20 pemuda keluar dari wihara dan menari mengitari bara api. Musik dan tubuh mereka yang meliuk-liuk dalam tari terlihat indah berpadu dengan jilatan api.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved