Seorang Pria Tewas Terjatuh dari Lantai 3 Gedung Polresta Bogor

Dede Susianti
06/9/2018 21:40
Seorang Pria Tewas Terjatuh dari Lantai 3 Gedung Polresta Bogor
(Ilustrasi--thinkstock)

SF, seorang pria berusia 41 tahun, warga Ciparigi, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat, tewas, jatuh dari lantai 3 gedung baru Mapolresta Bogor Kota di Jalan Kapten Muslihat, Kota Bogor.

Dalam keterangannya, Kamis (6/9), Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota, Kompol Agah Sonjaya, mengatakan, peristiwa itu terjadi pada Selasa (4/9) malam.

Saat itu atau sekitar pukul 22.45 WIB, lanjutnya, pihaknya sedang melakukan gelar perkara dengan para kanit dan anggota, di lokasi gedung tersebut

Menurut Kasat, kejadian itu bermula dari anggotanya yang membawa seseorang (korban) yang dianggap bahwa dia pelaku sodomi. Saat itu, kondisi korban menderita luka di bagian hidung, dengan tangannya diborgol ke belakang. Kemudian dia duduk di dekat pintu.

"Dia duduk di samping pintu, kita di sini (di kursi meja bundar dengan di depannya ada papan tulis). Kita berbalik melihat si orang itu, ada luka di bagian ini (menunjuk hidung)," terang Agah.

Menurut penjelasan anggotanya, lanjut Agah, dia dianiaya. Seketika itu dirinya mengaku spontan atau langsung bertanya.

"Kang, punya anak, punya istri?" kata Agah menirukan apa yang dilontarkan pada korban.

Namun, saat itu dia tidak merespons. Dengan itu, dirinya berpikir dan minta ke anggotanya untuk membawanya ke klinik yang berada di area Mapolresta.

"Dia tidak merespons sama sekali. Sehingga saya pikir ke anggota yang ada di sini, yang gelar, bawa ke klinik dulu. Karena SOP (standar operasional prosedur), takutnya ada penyerangan dari masyarakat atau ada apa-apa," ungkap Kasat Reskrim.

Namun, lanjutnya, ketika hendak dibawa ke luar, di pintu, dia (korban) seperti akan pingsan. Dan ketika dia terlihat mau duduk di pintu, dia teriak sekerasnya.

"Dia teriak sekerasnya, sambil semacam loncat. Saya juga mau nulis, kaget. Kemudian dia lari ke luar kosong. Dikejar sama Bubun (anggota). Dikejar ke ruang kosong, karena pintu itu tidak terkunci, karena gelap," katanya.

"Ternyata, dia masuk jendela. Masuk jendelanya entah mau kabur atau apa, tidak tahu. Apakah dia sengaja mau loncat, kita tidak tahu. Begitu loncat dia teriak. Kita lari ke bawah. Berdarah di kepalanya," paparnya.

Dia mengatakan, peristiwa itu berlangsung sangat singkat. Bahkan di luar dugaan. Karena tidak terlihat ada tanda-tanda untuk melarikan diri dan tanda-tanda untuk melakukan perlawanan.

"Di sini itu sekitar 10 detik lah. Cepat sekali. Cepat sekali. 10 detik lah, ada 10 detik. Karena kita baru mulai nulis di sini. Itu yang terjadi. Memang di luar dugaan. Tidak ada tanda-tanda untuk melarikan diri, tidak ada tanda-tanda untuk melakukan perlawanan," ungkapnya.

Dia mengatakan, tindakan yang diambil saat itu membawanya ke rumah sakit umum daerah (RSUD) di Jalan Dokter Sumeru. Namun ternyata setibanya di sana, korban dinyatakan sudah meninggal.

"Karena ke ambulans itu jarak 11 meter di RS Bayangkara, segera kita kirim ke RSUD. Ternyata di RSUD sudah meninggal. Tindakan kita dibawa ke RSUD Ciawi untuk dilakukan autopsi. Termasuk memanggil pihak keluarga. Namun autopsi baru dilakukan besok harinya atau Rabu, pukul 15.00 WIB, karena menunggu dokter," jelas Agah.

Dalam kesempatan itu, Kasat juga menjelaskan, dari pihak keluarga, bukan mempermasalahkan dia jatuh atau menjatuhkan diri.

"Pihak keluarga sudah ikhlas. Hanya dia melaporkan ke kita itu karena merasa tidak terima korban dihakimi. Tentu kita sebagai pengayom menerima laporan itu," katanya.

Dia menjelaskan bahwa terkait itu, pihaknya akan melakukan penelitian terkait laporan kejadian tersebut.

"Apakah benar di sana dianiaya. Oleh siapa dan siapa berbuat apa. Itu tetap kita lakukan penyelidikan. Termasuk kejadian sodominya ini, walaupun dia sudah meninggal. Tapi tetap kita harus membuktikan, apakah itu terjadi atau tidak," jelasnya.

Dari kejadian itu, lanjutnya, ada tiga hal yang sedang dilakukan pihaknya. Pertama, pengusutan bagaimana sampai dia jatuh. Dia menyebut, internal anggotanya yang mengawal sudah dilakukan pemeriksaan oleh Paminal (pengamanan internal Polri). Kemudian, dilakukan pengecekan tempat kejadian perkara. Dan terhadap pelaporan sodomi juga.

"Terkait pelaporan sodomi, kami sudah memeriksa beberapa orang. Hanya saja kita belum melakukan pemeriksaan terhadap pihak keluarga karena sedang berduka. Kita memberi waktu orang yang sedang berduka," jelasnya.

Sebelumnya, pihaknya menerima laporan ada kejadian kasus sodomi di Ciparigi. Pelakunya sudah diamankan warga. Mendengar laporan itu, anggotanya pun langsung ke lokasi yang dimaksud.

"Begitu sampai ke sana melihat kondisi masyarakat berkumpul, tentu anggota harus berpikir cepat. Berarti orang ini harus diamankan. Dan disarankan segera ada orang segera melaporkan," pungkasnya.

Sementara itu, salah seorang anggota keluarga korban Sopiah, mengatakan, pihaknya ingin agar kematian saudaranya diusut.

"Kalau benar dia melakukan asusila, silakan diproses hukum. Kami ingin menuntut keadilan. Diproses. Gak main hakim. Itu belum tentu benar, karena oramg yang katanya disodomi belum sempat di visum," katanya.

Pihak keluarga melihat kondisi SF sangat parah. Dan terkait kabar meninggalnya sendiri, pihak keluarga mengaku baru mengetahuinya setelah diberi tahu tetangga atau warga sekitar rumahnya. Bukan dari Ketua RT maupun dari polisi. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya