Diberi Pisang Sejak Lahir, Berat Badan Rizki Menyusut
Gana Buana
28/5/2015 00:00
(MI/Gana Buana)
CAIRAN bening berkali-kali keluar dari mulut mungil Muhammad Rizki Maulana. Tubuhnya terlihat amat kecil di balik balutan kain berwarna hijau pupus.
Tangan kanannya harus rela tertutupi perban, untuk menyamarkan penyematan jarum infus. Kedua lubang hidungnya terpaksa dipasangi konektor oksigen. Kondisi tak lazim ini dialami bayi mungil berusia 3 bulan, lataran berat badan si bayi terus menyusut tiap harinya.
Rizki memang dilahirkan dalam kondisi normal, dengan berat 3,1 ons dan panjang 50 sentimeter. Namun memasuki bulan ke tiga, berat badan Rizki yang idealnya bertambah menjadi 5 kilogram justru menyusut menjadi 2,6 ons. Penyusutan itu disebabkan bayi Rizki kerap muntah-muntah dalam jeda waktu satu jam sekali.
"Langsung saja kita bawa ke RSUD karena kondisinya sudah lemah," ujar Kepala Puskesmas Bojong Menteng Jasniar ketika ditemui di RSUD Kota Bekasi, Jalan Pramuka, Bekasi Timur.
Rizki merupakan buah cinta yang lahir dari pasangan, Yunia Ratna Sari,18, dan Rojak Maulana,21. Keduanya mengaku hanya menikah di bawah tangan dengan alasan 'kecelakaan'. Awalnya, keberadaan bayi
Rizki memang tak diinginkan. Jabang bayi baru diketahui keberadaannya setelah menginjak usia ke 7 bulan di kandungan. Selama itu asupan gizi dari Rizki tak diperhatikan. "Saya baru kontrol ke bidan saat usia kandungan menginjak 7 bulan," ujar Yunia.
Yunia mengaku sejak dilahirkan, Rizky hanya diberi asupan buburbayi instan, buah pisang dan air putih. Yunia tak mampu memberikan Air Susu Ibu (ASI) ke anak pertamanya itu, karena ASI-nya tak keluar.
Yunia menuturkan awalnya ia hendak memberi susu formula sebagai nutrisi pengganti ASI. Tapi karena kehidupan ekonominya sangat jauh dari kecukupan, ia pun urung melakukan hal tersebut.
Suaminya, Rojak, bekerja di depo pengisian air minum isi ulang dengan upah maksimal sebesar Rp75.000 per hari. "Makanya saya kasih buah pisang dan bubur bayi saja dan untuk minumnya saya kasih air putih," tuturnya.
Kondisi Rizki pun sudah terlihat melemah di bulan pertama kelahirannya. Yunia dan suaminya akhirnya memeriksakan kondisinya ke Posyandu terdekat. Pihak Posyandu secepatnya menyarankan pasutri ini untuk mendatangi Puskesmas Bojong Menteng. Lantaran Puskesmas Bojong Menteng pun tak bisa menangani, akhirnya Rizki dirujuk untuk dirawat di RS Bojong Menteng.
Namun karena keterbatasan biaya, Rizky hanya bisa dirawat selama setengah hari. "Setengah hari saja biayanya sangat mahal, kalau tidak salah biayanya Rp1,4 juta," tutur Yunia.
Pasutri yang kini tinggal di rumah sewa di Jalan Pansor, PU, Rawa Lumbu, Kota Bekasi ini mengaku tak bisa membuat kartu keanggotaan Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS). Sebab, sampai saat ini dirinya pun belum memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Untuk itu, ketika Puskesmas Bojong Menteng merujuk Rizki ke RSUD, Pasutri ini tak bersedia dengan alasan takut. "Saya takut ditanya macem-macem, KTP lah, BPJS lah, Jamkesdalah, makanya gak saya bawa Rizki ke RSUD," imbuhnya.
Namun, kini bayi Rizki sudah ditangani pihak RSUD Kota Bekasi sejak Rabu (27/5). Dari hasil diagnosa RSUD Kota Bekasi, bayi Rizky mengalami gizi buruk karena rendahnya pengetahuan orangtua dalam mengasuh anak. Sehingga, bayi yang berusia tiga bulan itu tidak diberi ASI atau susu formula pengganti ASI.
Menurut Dokter Spesialis Anak RSUD Kota Bekasi Charles Silalahi alat pencernaan bayi seusia Rizky sangat sensitif, sehingga sangat rentan terkena penyakit bila diberi asupan makanan yang tidak sesuai.
"Sampai usia enam bulan, bayi harus diberi ASIkarena itu merupakan nutrisi yang sangat penting untukpertumbuhannya," jelasnya.
Saat ini bayi Rizki terpaksa harus masuk ruang isolasi. Sebab,secara fisik kondisi Rizky sangat lemah, sehingga rentan terkontaminasi penyakit.
Menurut Charles, setidaknya memerlukan waktu selama dua pekan untuk proses penyembuhan gizi Rizky. Namun hal itu tergantung dengan kondisi anak tersebut. Bila kondisinya kian melemah, maka proses pemulihan bisa melebihi dari satu bulan.
Untuk masalah biaya rumah sakit perawatan Rizki, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menjamin setiap keluarga miskin yang ada di Bekasi berhak memperoleh pengobatan gratis. Pengobatan itu, kata Rahmat, melalui kartu Bekasi Sehat (KBS) dan Jamkesda.
"Masyarakat miskin tidak perlu mengkhawatirkan biaya pengobatan, karena sudah dilindungi oleh pemerintah," kata Rahmat.
Dengan hal ini, orang nomor satu di Kota Bekasi ini berharap, agar insiden penelantaran bayi di rumah sakit khususnya swasta tidak terjadi lagi. Oleh karenanya, pihaknya telah mengirim petugas Dinas Kesehatan Kota Bekasi untuk melakukan investigasi ke sejumlah rumah sakit swasta. Dengan harapan, kasus serupa tidak akan terjadi lagi di daerah Bekasi.
"Sudah ada 10 rumah sakit swasta yang kita gandeng untuk bekerja sama dalam penanganan BPJS, KBS dan Jamkesda," kata Rahmat. (Q-1)