Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
IMUNISASI Measles dan Rubella (MR) penting dilakukan untuk memutus mata rantai penularan virus campak dan rubela sekaligus membagun kekebalan komunitas dari penyakit campak dan rubela. Serangan penyakit campak terhadap balita dan anak yang belum pernah mendapatkan imunisasi akan berdampak buruk pada mereka.
Oleh karena itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) meminta pemerintah untuk melanjutkan program imunisasi MR.
"Kalau kena (campak), kondisi-nya akan buruk. Bisa radang paru, kejang, radang otak, diare, bahkan meninggal," kata Professor Soejatmiko dari Satgas Imunisasi IDAI di Jakarta, Selasa (14/8).
Di sisi lain, virus rubela berbahaya, terutama bagi ibu hamil, karena penularan virus itu membuat bayi yang dilahirkan berisiko cacat. "Kalau diimunisasi, dalam waktu dua minggu sudah muncul kekebalan," katanya.
Menurut Soejatmiko, imunisasi rutin saja bagi seseorang tidak cukup. Dibutuhkan imunisasi serentak dan cakupan yang tinggi, yakni minimal 95% untuk membangun kekebalan komunitas. Ia menyatakan IDAI mendukung program imunisasi MR secara serentak.
"Kalau masih ada yang tidak diimunisasi, bisa menjadi kantong berpindahnya virus campak dan rubela, dan program ini akan tertunda," tegasnya.
Sementara itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) menjamin keamanan vaksin yang digunakan untuk imunisasi MR.
Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif Badan POM Reri Indriani mengatakan, sebelum vaksin tersebut diberikan izin edar di Indonesia, pihaknya telah melakukan pengawasan komprehensif. "Meliputi pemenuhan standar, khasiat, dan mutu," ujarnya.
Setelah mendapatkan izin edar, lanjutnya, Badan POM tetap melakukan pengecekan keamanan vaksin melalui pengawasan setelah diedarkan (postmarket).
Vaksin MR yang digunakan untuk introduksi imunisasi di Indonesia diproduksi Serum Institute of India (SII) yang didistribusikan PT Bio Farma. Vaksin tersebut telah mendapatkan izin edar dari Badan POM sejak 2017.
Sementara itu, Direktur Utama PT Bio Farma Rahman Rustan menyampaikan pihaknya sedang mengembangkan agar Indonesia dapat membuat vaksin MR sendiri. Proses tersebut memang membutuhkan waktu lama. Oleh sebab itu, selama ini untuk kebutuhan program imunisasi MR, PT Bio Farma selaku penyedia vaksin bekerja sama dengan SII yang sudah lebih dulu bisa memproduksi vaksin MR.
"SII di India sudah diakui Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan vaksin itu sudah digunakan di 141 negara Islam," terangnya.
Persediaan vaksin
Mengenai sertifikasi halal vaksin, kata Rahman, PT Bio Farma telah berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan mendorong SII untuk memenuhi dokumen persyaratan kehalalan vaksin. Bahkan, tim dari PT Bio Farma telah ke India untuk memberikan informasi dan pemahaman tentang aspek halal. "Kami mendorong agar SII melengkapi dokumen tersebut," tukasnya.
PT Bio Farma menyediakan 5,7 juta vial vaksin MR untuk program imunisasi yang dilaksanakan pada Agustus hingga September mendatang di 28 provinsi di luar Pulau Jawa. Program itu menyasar 31,9 juta balita berusia 9 bulan dan anak-anak hingga usia 15 tahun. (H-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved