PENJUAL beras plastik di Pasar Baru, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi , Jawa Barat, dikenal tertutup. Tidak banyak konsumen yang datang ke toko, mereka membeli beras melalui telepon.
Menurut warga sekitar, semenjak mencuatnya peredaran beras berbahan sintetis pada Selasa (19/5) lalu, toko itu mendadak tutup. Warga banyak yang tidak tahu penyebab tutupnya toko ST.
"Yang jelas gara-gara ada kasus beras plastik, toko ini langsung tutup," kata Usep, salah seorang tukang ojek di sekitar toko ST, Jumat (22/5/2015).
Usep mengatakan pemilik toko beras itu adalah Kresno. Menurutnya, Kresno dikenal sebagai pria yang tertutup dan sangat sibuk dengan usahanya. Dalam sehari, Kresno biasa memasok beras hingga dua truk.
"Ada tiga karyawan yang bekerja di sini. Mereka selalu sibuk mengirim dan menerima pasokan dari luar," jelasnya.
Dikatakan, kebanyakan pembeli tidak datang langsung ke toko. Pelanggan lebih sering membeli beras dengan cara memesan melalui telepon.
Usep mengungkapkan salah seorang karyawan di toko tersebut diperiksa di Polsek Bantargebang. Namun ia tidak mengetahui, apakah Kresno diperiksa polisi atau tidak. "Saya cuma tahu ada karyawan toko yang dibawa ke kantor polisi," tukasnya.
Mengapung di air Tidak mudah membedakan beras asli dengan beras plastik. Sebab, belum ada pihak yang bisa membantu memahami sampel beras plastik.
Demikian disampaikan Kepala Seksi Pengawasan Barang dan Perlindungan Konsumen Disperindag Jawa Timur Eka Setyabudi di Surabaya, kemarin.
"Cuma ciri-ciri dari informasi Bulog dan Pertanian, beras plastik itu bentuknya rata-rata utuh, bening, aromanya hambar, dan jika dimasukkan air mengambang. Kalau beras asli itu pasti baunya khas dari mesin penggilingan," kata Eka.
Eka juga mengaku belum dapat memastikan asal beras tersebut. Dari informasi yang ia dapat, beras tersebut merupakan impor.
"Informasi yang kami dapat dari impor (China). Apakah sudah masuk Jawa Timur, kita juga belum tahu," katanya.
Namun, kata Eka, tim belum mendapatkan laporan atau menemukan beras plastik dijual di wilayah Jatim. Bila pun ditemukan, tim tak akan langsung menindaknya. Tapi, tim akan melakukan uji laboratorium terhadap sampel.
"Kita uji kadar tepungnya. Kalau yang sistetis kadar tepungnya rendah. Jadi kalau ada yang mencurigakan kita ambil dan dibawa ke laboratorium Bulog," ujarnya. (Q-1)