Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SUDAH sepekan, Muhammad Faddilah Husen, 16, mengurung diri dalam kamarnya. Setelah sekitar 2 jam Media Indonesia menyambangi kediamannya di Jalan Waru I RT 001/03, Pamulang Barat, Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), kemarin, anak ketiga dari empat bersaudara itu tidak juga muncul.
Padahal dalam keseharian, Fadil, begitu biasa ia dipanggil, merupakan remaja aktif. Di sela-sela waktu senggang, ia menyalurkan hobi bermain futsal bersama teman-temannya. Siang itu, hanya orangtua Fadil, yakni Yasin, 46, dan Leonita Sugiarti, 40, yang menemani Media Indonesia berbincang-bincang di rumahnya.
Leonita menceritakan, sikap drastis yang terjadi pada anaknya berawal ketika pada Senin (23/7) pagi Fadil sudah tiba di rumah. Padahal, saat itu belum jadwalnya ia pulang sekolah. Sebelumnya, selama sepekan Fadil rutin mengikuti kegiatan masa orientasi siswa (MOS) di SMA Negeri 6 Pamulang, Kota Tangsel, sebagai siswa tahun ajaran baru 2018-2019.
"Waktu ikut MOS, nama anak saya masih ada di absen. Tapi giliran selesai upacara hari pertama sekolah, anak saya dipanggil wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan diberi tahu kalau nama anak saya tidak terdaftar di sekolah. Setelah itu dia disuruh pulang dan tunggu kabar dari sekolah," ucap Leonita lirih.
Keputusan itu tentu saja sangat mengejutkan Fadil dan keluarganya. Pasalnya, seluruh persyaratan untuk masuk ke sekolah itu sudah dipenuhi Fadil. Bahkan, dia sudah beberapa kali mengikuti tes penjurus-an di bidang IPA.
"Kalau sudah begini, mau gimana? Lagian kalau Fadil tidak diterima, kenapa kemarin disuruh beli seragam yang harganya Rp570 ribu. Saat membeli seragam, kami juga memakai bukti bahwa anak saya memang sudah diterima di sekolah," paparnya.
Ke depan, Leonita belum bisa memastikan apakah seragam itu akhirnya bisa dipakai anaknya untuk sekolah. Pasalnya, hingga kemarin belum ada kepastian dari sekolah, apakah anaknya bisa sekolah lagi atau tidak. "Saya juga sudah berapa kali ke sekolah nanya nasib anak saya, tapi saya malah dilempar-lempar. Terakhir disuruh ketemu kepala sekolah, tapi Pak Agus (Kepala SMA Negeri 6 Tangsel) enggak pernah ada di tempat," ungkap Leonita.
Kejadian itu, diakui Leonita, memberi dampak yang buruk bagi mental anaknya, dari rasa malu kepada teman-temannya hingga kekhawatiran adanya intimidasi dari pihak sekolah apabila Fadil akhirnya dipanggil lagi masuk ke sekolah.
Sejauh ini, pihak SMA Negeri 6 Kota Tangsel belum dapat memutuskan apakah Fadil dapat kembali bersekolah atau harus mendaftar ke sekolah lain.
"Saat ini datanya sedang kami cek. Kalau memang namanya sudah ada, terus datanya benar, nanti bisa disisipkan lagi," ujar Humas SMA Negeri 6 Tangsel Budi Mulyono singkat.
Sementara itu, Gubernur Banten Wahidin Halim saat dimintai konfirmasi mengatakan Leonita harus segera membuat laporan kejadian itu ke Inspektorat Pemerintah Provinsi Banten.
"Nanti biar inspektorat melakukan pemanggilan (ke pihak SMA Negeri 6 Tangsel). Hasil pemeriksaan inspektorat nanti dilaporkan ke saya karena sekolah di lingkungan Banten telah saya gratiskan," tukas Wahidin.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved