Sertifikasi PSK, Muhammadiyah: Langkah Ahok Ugal-ugalan

Intan Fauzi/ Akmal Fauzi/M Rodhi Aulia
28/4/2015 00:00
Sertifikasi PSK, Muhammadiyah: Langkah Ahok Ugal-ugalan
(MI/IMMANUEL ANTONIUS)
USULAN Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok untuk memberikan pekerja seks komersial (PSK) sertifikat atas pekerjaannya menuai banyak kritikan. Sekretaris Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu'ti menilai langkah Ahok tersebut ugal-ugalan.

"Menurut saya langkah Ahok itu ugal-ugalan. Sama dengan legalisasi prostitusi," jelas Mu'ti di Kantor PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2015).

Mu'ti menambahkan sertifikat terhadap PSK merupakan bentuk komersialisasi dan eksploitasi manusia sehingga dilihat dari sudut mana pun prostitusi sama saja dengan perbuatan kriminal.

"Keputusan itu berarti komersialisasi prostitusi dan eksploitasi manusia. Di mana pun dari sudut agama apalagi di Indonesia, prosititusi itu kriminal. Kedua, merupakan perbuatan amoral dilihat agama dan budaya bangsa," jelasnya.

Seperti diketahui, baru-baru ini Ahok mengusulkan untuk membuat sertifikat bagi PSK. Selain itu, Ahok juga merencanakan untuk membangun lokalisasi prostitusi. Menurut Ahok rencananya merupakan langkah antisipasi mengurangi kegiatan prostitusi di berbagai wilayah.


Terkait dengan keberadaan PSK ini, Ahok mengaku bingung. Ia memang pernah menyampaikan keinginan agar prostitusi terpusat dengan mendirikan lokalisasi.Akan tetapi, keinginannya itu menuai pro dan kontra. Ahok menyadari, pendirian lokalisasi bukanlah jalan terbaik untuk mengatasi hal tersebut. Ia bahkan bergumam, justru menghapuskan lokalisasi, adalah kebanggaan bagi dirinya selaku pemegang kekuasaan.

"Lokalisasi enggak bisa dipenuhi, saya sadar. Kalau hapus lokalisasi, itu kebanggaan (buat saya)," kata Ahok kepada wartawan di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2015).

Ahok menegaskan, dirinya tak akan pernah sanggup mendirikan lokalisasi. Sebab, pertentangan tidak hanya datang dari para pemangku moral akan tetapi juga, akan datang dari pelaku bisnis yang sejatinya sudah menjamur di berbagai tempat di Jakarta.

Menurut dia, keinginan untuk mendirikan lokalisasi sekaligus dengan memberlakukan sertifikasi bagi para PSK, tak lebih dari gertakan sambal atau ledekan semata. Ledekan untuk para pelaku bisnis dan juga oknum pejabat yang menjaga keberlangsungan bisnis haram tersebut.

"Kalau sekarang kan kita pura-pura aja kan. Itu fakta di negara (Indonesia). Kalau mau laku, kita maunya instan seketika. Mau kaya, instan. Kalau mau kaya cepet jual diri atau korup. Situasi begitu, Anda pilih mana," ujar Ahok dengan kebingungannya.

Walau demikian, Ahok kini gencar mendata atau merazia sejumlah tempat kos atau apartemen. Dia tidak menaruh rasa toleransi apapun jika tempat tinggal tersebut disalahgunakan. Terlebih untuk praktik prostitusi.

"Kita akan terus. Pokoknya yang namanya, ilegal di Jakarta akan terus kita benahi. Tidak ada toleransi. Apalagi, kalau kos-kosan dipakai untuk prostitusi, untuk PSK. Enggak ada toleransi. Pasti kita akan geledah," tegas dia.

Terkait dengan PSK, Ahok sepertinya bingung. Ia mengaku memang menyampaikan keinginan agar prostitusi terpusat dengan mendirikan lokalisasi.Akan tetapi, keinginannya itu menuai pro dan kontra. Ahok menyadari pendirian lokalisasi bukanlah jalan terbaik untuk mengatasi hal tersebut.

"Lokalisasi enggak bisa dipenuhi, saya sadar. Kalau hapus lokalisasi, itu kebanggaan (buat saya)," kata Ahok kepada wartawan di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2015).

Ahok menegaskan dirinya tak akan pernah sanggup mendirikan lokalisasi. Sebab, pertentangan tidak hanya datang dari para pemangku moral akan tetapi juga, akan datang dari pelaku bisnis yang sejatinya sudah menjamur di berbagai tempat di Jakarta.

Menurut dia, keinginan untuk mendirikan lokalisasi sekaligus dengan memberlakukan sertifikasi bagi para PSK, tak lebih dari gertakan sambal atau ledekan semata. Ledekan untuk para pelaku bisnis dan juga oknum pejabat yang menjaga keberlangsungan bisnis haram tersebut.

"Kalau sekarang kan kita pura-pura aja kan. Itu fakta di negara (Indonesia). Kalau mau laku, kita maunya instan seketika. Mau kaya, instan. Kalau mau kaya cepet jual diri atau korup. Situasi begitu, Anda pilih mana," ujar Ahok dengan kebingungannya.

Walau demikian, Ahok kini gencar mendata atau merazia sejumlah tempat kos atau apartemen. Dia tidak menaruh rasa toleransi apapun jika tempat tinggal tersebut disalahgunakan. Terlebih untuk praktik prostitusi.

"Kita akan terus. Pokoknya yang namanya, ilegal di Jakarta akan terus kita benahi. Tidak ada toleransi. Apalagi, kalau kos-kosan dipakai untuk prostitusi, untuk PSK. Enggak ada toleransi. Pasti kita akan geledah," tegas dia.

PSK Jatinegara

Sementara itu, Kasieops Satpol PP Jakarta Timur Agus Sidiki mengaku sudah sering melakukan penertiban PSK. Namun karena lokasinya yang mudah diakses, membuat para PSK mudah melarikan diri dari petugas.

"Kendalanya, saat disidak dari depan di Jalan Raya  Bekasi, yang mangkal di  belakang (dekat Lapas Cipinang) langsung  kabur naik ojek. Disidak dari belakang, yang depan yang kabur," kata Agus saat berbincang kepada wartawan, Selasa (28/4)

Prostitusi memang tampaknya masih menjadi permasalahan kompleks di Jakarta. Permasalahan itu tentu menjadi pekerjaan rumah Pemprov DKI Jakarta. Keberadaan para pekerja seks komersial (PSK) bahkan mudah dijumpai dibeberapa wilayah di Jakarta.

Di Jakarta Timur, salah satu titik para PSK menjajakan diri itu berada di Jalan raya Bekasi, Jakarta Timur, tepatnya di bawah Fly Over Jatinegara hingga depan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang.

Saban malam, bisa dijumpai puluhan PSK berjajar di atas trotoar. Di antara mereka bahkan ada juga yang bersembunyi di balik tembok-tembok pagar pembatas rel kereta api sembari menunggu pelanggannya. Mereka mulai menjajakan diri diatas pukul 20.00 WIB. Rentang usia mereka bervariatif dari remaja hingga setengah baya.

Menurut Agus Sidiki, banyak pula  PSK yang melakukan perlawanan saat dilakukan penertiban.

"Jadi mereka ini begitu anggota kami menyergap, ada yang melempari dengan batu, terus mereka berlari lewat rel kereta dan kabur," jelasnya.


Dikatakan Agus, pihaknya akan terus mencari solusi untuk bisa menertibkan lokalisasi yang sudah ada sejak lama itu.

"Meskipun sulit, kami akan terus berupaya untuk menertibkan para PSK tersebut," tutupnya. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya