Polisi Kesulitan Endus Peredaran Senpi Rakitan

Tosiani
09/7/2018 17:40
Polisi Kesulitan Endus Peredaran Senpi Rakitan
( ANTARA FOTO/Ardiansyah)

POLRI mengalami kesulitan dalam mengungkap peredaran senjata api (senpi) rakitan. Senpi tersebut banyak digunakan pelaku kejahatan untuk menakuti hingga membunuh korbannya.

Sebagaimana yang dilakukan begal di Tangerang, menggunakan senpi rakitan untuk menembak seorang wanita korbannya, lalu merampas sepeda motornya.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto mengungkap hal itu di Jakarta, Senin(9/7). Setyo berpendapat, hanya masyarakat yang mengetahui informasi perihal pembuatan dan peredaran senpi rakitan. Ia meminta masyarakat yang mengetahui informasi tersebut agar segera melapor agar polisi mudah menanganinya.

"Yang penting untuk penyebaran senjata rakitan ini informasi dari masyarakat. Pembuat senjata rakitan itu yang tahu masyarakat. Saya mohon cepat lapor, kalau cepet lapor pasti cepat ditangani. Kalau tidak ada yang lapor, polisi tahu cukup lama,"ujar Setyo.

Dikatakan Setyo, peredaran senpi rakitan ini sangat tertutup. Seperti di Lampung, senpi rakitan dijual melalui sopir-sopir truk. Kemudian senpi diangkut oleh sopir truk pengangkut barang keluar dari Lampung.

"Seperti di Lampung dibuat, kemudian dijual melalui sopir truk. Kita ada tahu polanya mereka jual ke sopir truk, kemudian sopir-sopir angkutan barang yang membawanya keluar melintas lampung,"ujar Setyo.

Dari penyelidikan polisi, kata Setyo, senpi rakitan dijual dengan harga antara Rp 2,5 - 3,5 juta per unit. Senpi tersebut dilengkapi tiga hingga lima butir peluru. Senpi dirakit dari besi-besi yang sudah tidak terpakai.

"Masyarakat jangan permisif, polisi mengawasi, masyarakat juga ikut mengawasi. Kalau sudah tahu, lapor dong. Nanti pasti kita tindak dong,"ujar Setyo.

Menurut Setyo, dalam pengamatannya, para pengedar senpi rakitan akan berpindah tempat bila tahu ada operasi. Sebab membuat dan mengedarkan senpi rakitan adalah profesi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

"Kita sudah pernah melakukan penelitian, sudah pernah operasi. Tapi tiap kali dioperasi dia buat lagi karena balik lagi ini kebutuhan hidup mereka. Dia hidup dari situ,"ujar Setyo.

Atas dasar itu, kata Setyo, penyelesaian masalah senpi rakitan tidak hanya oleh polisi. Tapi harus lintas sektoral. Pemerintah Kabupaten juga dia minta memberi penyuluhan. Serta mengalihkan mereka yang ahli membuat senjata rakitan pada aktivitas ekonomi lain yang nilainya signifikant dan setara dengan hasil dari merakit senpi.

"Bisa kita tangkap tapi lebih bagus kalau kita tahu dari awalnya, dari sumbernya dimana, dia buat, kita tangkap. Itu sudah kita tahu tapi begitu ditangkep di sini dia buatnya tempat lain. Keahliannya itu nggak berubah, pindah-pindah. Di Jawa barat ada di dekat Bandung lah, Cipacing. Lampung sudah kita selidiki semua. Tapu kita operasi, pindah, operasi pindah". (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya