Berharap Transportasi Publik Diperbanyak

23/3/2015 00:00
Berharap Transportasi Publik Diperbanyak
(MI/RAMDANI)
ENTAH sudah berapa kali pemuda berkemeja cokelat itu melirik jam tangan yang dikenakannya. Waktu menunjukkan pukul 08.30 WIB, dan cemas tergambar jelas di wajah bulatnya.

Tersendatnya laju bus Mayasari 132 jurusan Bekasi-Lebak Bulus yang ditumpanginya akibat kemacetan lalu lintas di Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) membuat AC di kendaraan umum itu tidak terasa. Sebaliknya, keringat dingin justru mengalir di dahinya.

Sambil menggoyang-goyangkan kaki, kembali ia melihat jam tangannya. Kali ini dahinya berkerut. Pemuda bernama Laode, 24, itu seolah tidak percaya dengan yang ia lihat. "Duh, gimana ini? Telat lagi deh," gerutu mahasiswa semester akhir Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.

Warga Bekasi itu menuturkan kemacetan lalu lintas di jalur yang selalu dilaluinya setiap pergi dan pulang kuliah kerap terjadi. Seperti saat itu, arus lalu lintas mulai dari pintu Tol Bekasi Timur hingga pintu keluar Pondok Indah harus ditempuh dengan kecepatan bus rata-rata 10 km per jam. Apalagi pada hari Senin.

Padahal, sewaktu masih menjadi mahasiswa baru pada 2010, waktu tempuh dari Bekasi-Lebak Bulus tidak lebih dari 1 jam. Namun, dengan terus bertambahnya volume kendaraan yang melintasi Tol JORR, waktu tempuhnya paling cepat 2,5 jam. "Saya pernah sampai tidak bisa ikut ujian akhir semester (UAS) akibat kemacetan lalu lintas di tol ini," katanya.

Hal serupa diutarakan Leny Cahyani, 26, karyawati perusahaan swasta di bilangan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang. Perempuan yang bermukim di Pondok Gede tersebut dua tahun belakangan rela pergi lebih pagi dan pulang terlambat demi menghindari kemacetan di dalam tol itu.

"Kepadatan lalu lintas di Tol JORR justru yang menghambat saya menuju kantor dan pulang. Saya pernah berada di dalam tol selama 5 jam. Yang paling cepat, dari kantor ke Jati Asih 3 jam." 

Ia menduga semakin banyaknya mobil pribadi dan truk yang melintas di jalur itu menjadi penyebab tersendatnya arus lalu lintas.

Untuk mengatasi kemacetan lalu lintas, mereka berharap pemerintah menyediakan transportasi publik yang nyaman agar masyarakat meninggalkan kendaraan pribadi dan bukan sekadar membangun tol.

Makin parahnya kemacetan di Tol JORR juga dirasakan Ika, yang kini harus menempuh jalur itu lebih lama daripada beberapa bulan sebelumnya. Menurutnya, sebelum JORR W2 ruas Ulujami-Kebon Jeruk dio­perasikan pada pertengahan 2014, ia bisa menem­puh perjalanan dari pintu Tol Ve­teran menuju Pasar Minggu rata-rata 45 menit saat jam sibuk. Namun, kini perjalanan harus ditempuhnya paling cepat 2 jam atau hampir tiga kali lipat. (Gan/DA/J-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya