KEMACETAN lalu lintas di Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) yang tidak lagi mengenal waktu disebabkan banyak hal. Salah satu penyumbangnya, banyaknya kendaraan besar, lantaran tidak bisa melalui tol dalam kota.
"Kendaraan besar, seperti truk, yang tidak boleh masuk tol dalam kota saat siang, kini lewat JORR. Tapi, bukan karena mereka (truk) saja, volume kendaraan lain juga bertambah karena munculnya kawasan permukiman di sekitar JORR," kata Wakil Kepala Korlantas Polri Brigadir Jenderal Sam Budigusdian kepada Media Indonesia, Sabtu (21/3).
Menurutnya, penyebab lain kemacetan lalu lintas di sana ialah Bandara Soekarno-Hatta yang kini juga bisa dicapai melalui JORR. Sam yang juga pengguna JORR sering merasakan kemacetan parah ketika ingin menuju bandara.
Ia bahkan menilai kemacetan di jalur bebas hambatan tersebut berlangsung selama 24 jam tanpa henti. "Pagi masyarakat berangkat ke kantor. Siang setelah masyarakat masuk kantor, kendaraan besar masuk JORR. Lalu sore hingga malam semakin parah karena kendaraan kecil dan besar bercampur," tuturnya.
Ia mengatakan, untuk mengatasi itu, pihaknya telah melakukan penertiban di sekitar gerbang masuk maupun pintu keluar tol. Sam juga sudah meminta kepada setiap pengelola tol agar memfungsikan seluruh gardu tol agar transaksi bisa berlangsung cepat.
Sementara itu, penjaga pintu Tol Fatmawati II (Fatmawati ke arah Kebon Jeruk) Irfan Baid menuturkan jumlah kendaraan yang masuk melalui pintu itu pada jam sibuk melonjak dari 2.000 menjadi sekitar 3.000 per hari, sejak dibukanya JORR W2 (Ulujami-Kebon Jeruk) pertengahan tahun lalu.
Sebagian besar kendaraan yang masuk melalui pintu Fatmawati II merupakan kendaraan pribadi dan menuju Bandara Soekarno-Hatta dan Bintaro, terutama pada waktu pulang kantor atau pukul 17.00 hingga 21.00 WIB.
Di sisi lain, salah seorang sopir truk tujuan Sumatra, Toni Setiawan, yang melintasi Tol JORR menuding mobil pribadi sebagai penyebab kema-cetan di jalur itu. Selain jumlahnya makin banyak, pengemudinya kerap melanggar aturan.
Ia mencontohkan, saat antrean kendaraan dari Tol Cikempek akan memasuki gerbang Tol Cikunir, truk bergerak perlahan di jalur kiri. Namun, sebagian kendaraan pribadi biasanya tidak mau antre, tapi melaju di jalur kanan yang diperuntukkan kendaraan tujuan Cawang.
Setelah itu, kendaraan pribadi membelok ke arah gerbang Cikunir dengan memotong antrean truk.
"Mobil kecil (pribadi) yang lebih egois. Kalau ada polisi, enggak berani. Tapi kalau enggak ada polisi, ya menerobos dari kiri," katanya.
Sopir truk lainnya, Ajen, mengungkapkan kemacetan sepanjang JORR bukan hanya menambah waktu tempuh, melainkan juga membuat biaya bahan bakar membengkak. Beberapa bulan lalu, perjalanan Cibubur-Tangerang menghabiskan bahan bakar solar 20 liter, tetapi sejak kema-cetan makin parah, bahan bakar untuk perjalanan itu bertambah menjadi 25 liter. (Beo/*/J-2)