PENDERITAAN yang dialami Nenek Rosniah,90, menarik perhatian Kapolres Metro Kota Bekasi Kombes Pol Rudi Setiawan. Kapolres pun menyempatkan diri mendatangi rumah perempuan renta yang berprofesi sebagai tukang pijat ini.
"Saya merasa miris melihat kondisi nenek Rosniah yang mencoba bertahan di tengah gegap-gempita pembangunan Bekasi," kata Rudi Setiawan di Bekasi, Jumat (10/4).
Sebagai wujud kepeduliannya, Rudi memberikan makanan dan sembako serta uang untuk modal usaha yang bisa digunakan untuk kehidupan nenek renta itu.
Sementara itu, anggota Babinkamtibmas di Kelurahan Margahayu, Bekasi Timur, yang mengetahui kehidupan nenek tersebut mengumpulkan warga, mencari solusi dari persoalan yang ada. Warga sepakat untuk memberikan bantuan.
Nenek Rosniah mencoba bertahan di tengah gegap gempita pembangunan Kota Bekasi, Jabar. Meski ekonominya pas-pasan, ia tidak pernah mengeluhkan.
"Sehari-hari kerja sebagai tukang urut. Seikhlasnya saja mau dikasih upah. Rp10 ribu juga nggak apa-apa. Paling besar dapat Rp50 ribu," ujar Rosniah saat berbincang di rumah kontrakannya, Perumahan Margahayu Jaya, RT 02/18, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, .
"Saya nggak malu, lebih baik jadi tukang urut dapat rezeki halal daripada harus mengemis," lanjutnya.
Namun dalam seminggu terakhir ini, Rosniah harus memenuhi perutnya dengan nasi aking lantaran tidak memiliki pemasukan sama sekali dari jasa pijat yang dilakoninya. Alhasil, dia harus 'memutar otak' untuk mencari cara bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi.
Rosniah menjemur sisa nasi yang tidak habis dimakan di depan kontrakannya. Ketika sudah kering nasi itu kembali dimasaknya.
"Sudah hampir seminggu terakhir belum bisa beli beras, jadi makan seketemunya saja di jalan. (Nasi) ini nanti dikeringin supaya bisa dimasak lagi. Terkadang ada aja tetangga suka ngasih makan tapi saya pantang buat minta, kalau dikasih syukur, nggak dikasih nggak apa-apa," terang nenek yang biasa dipanggil Mpok Niti oleh para tetangganya itu.
Rosniah tinggal di kontrakan berukuran 3x3 seorang diri. Sebenarnya dia memiliki enam anak, namun mereka sudah berkeluarga dan tinggal di Jawa Tengah.
"Lebih baik saya di sini, kalau ada uang ya pulang kampung buat nengok cucu daripada saya merepotkan mereka nanti. Anak sudah berulang kali datang menjemput, ajak saya pulang sampai nangis-nangis, tapi saya sendiri memang tidak mau," tukasnya. (Q-1)