ZANIA Rachmawati, 4, tertidur lebih lelap dalam dekapan ayahnya, Mamat Surahmat, 55, pada Jumat (20/3) pekan lalu. Seperti hendak menyampaikan salam perpisahan, malam itu Rahmat terus merangkul dan mencium pipi anak bungsunya itu penuh kasih sayang hingga terlelap.
"Istrinya bilang, Pak Rahmat malam sebelumnya tidak seperti biasanya. Dia rangkul anak bungsunya, dipeluk dan dicium sampai tertidur. Mungkin itu firasat menjelang kepergiannya," tutur Sukria Ramadhani, adik ipar Rahmat.
Peluk cium sang ayah itu nyatanya sungguh-sungguh menjadi yang terakhir untuk Zania. Karena Sabtu (21/3), umur Rahmat tuntas dalam perjalanan pulang seusai berjualan beras di Pasar Ciracas, Jakarta Timur.
Pilihan Rahmat merampungkan hitungan penjualan sebelum pulang pada dua bulan terakhir ini membuatnya pulang lebih lambat. Seperti Sabtu nahas itu, ia baru menutup tokonya selepas magrib. Tanpa beban, dengan mengendarai sepeda motor Yamaha RX King, sang juragan beras menenteng tas berisi uang tunai Rp500 juta. Uang modal dan hasil penjualan hari itu. Ia memang biasa wara-wiri membawa uang tunai ratusan juta tanpa didampingi pengawalan.
Namun, hari itu kemudi motor Rahmat tak pernah sampai ke rumahnya di Jalan Belly RT 011/09, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Dalam perjalanan pulang, di Jalan Raya Bogor, tepatnya di depan Naga Swalayan, empat orang dengan dua motor memepet motor si juragan beras. Bukan motor, tetapi tas berisi uang itulah yang diincar. Upaya perlawanan Rahmat mempertahankan tasnya sia-sia karena pelaku menembak perutnya dua kali dan membacok lengan kirinya.
Warga sekitar, yang mendengar letusan senjata api dari pelaku, berupaya menyelamatkan nyawa Rahmat dengan membawanya ke Rumah Sakit Pasar Rebo. Karena luka yang cukup parah, Rahmat pun dirujuk ke Rumah Sakit Polri Kramatjati. Namun, ia meninggal di perjalanan.
Selain Zania, Rahmat meninggalkan istri keduanya, Nining Setiani dan dua anak dari istri pertamanya yang telah wafat, Ani Setiani, 26, dan Doni Rahmat Setiadi, 25.
Ramadhani menduga para pelaku mengenali kakak iparnya itu dan sudah mengincarnya sebagai target perampokan. Rahmat, kata dia, dikenal berpenampilan sederhana dan tidak mencolok. Hanya orang-orang dekat yang mengenali kebiasaan Rahmat menenteng uang tunai ratusan juta. "Karena mereka pastinya tahu apa yang dibawa Pak Rahmat. Saya yakin mereka sudah membuntutinya," ujarnya.
Selain sederhana, Rahmat dikenal sebagai sosok yang humoris, mudah bergaul, dan akrab dengan para karyawannya. Karena itu, tidak hanya keluarga yang terpukul dengan kepergiannya yang mendadak. Kerabat dan para karyawan sang juragan beras itu mengantarkan Rahmat sampai ke peristirahatan terakhir.
Polisi langsung bergerak mendalami kasus perampokan sang juragan. Kapolsek Ciracas Komisaris Martono mengatakan, setelah autopsi kemarin malam, polisi juga tengah melakukan uji laboratoriun terhadap proyektil peluru yang digunakan pelaku. Hasilnya baru diketahui hari ini.
"Kami masih mendalami dulu, masih melakukan penyelidikan. Belum diketahui apakah perampokan itu sudah direncanakan sejak awal atau tidak. Kami juga masih menunggu hasil lab," kata Martono. (Akmal Fauzi/J-4)