Program Tong Sampah sejak Tahun Lalu

Selamat Saragih
06/6/2018 08:30
Program Tong Sampah sejak Tahun Lalu
(ANTARA/RIVAN AWAL LINGGA)

POLEMIK kebijakan Dinas Lingkungan Hidup DKI membeli tong sampah sebanyak 2.640 unit dari Jerman akhirnya menggelitik Gubernur DKI, Anies Baswedan, angkat bicara.

Sebelumnya, Anies menolak mengomentari. Bahkan, menantang wartawan untuk lebih meramaikan berita tong sampah senilai Rp9,6 miliar itu. “Enggak, saya enggak mau komentar sekarang. Nanti saya jelaskan, diberitakan dulu dah yang ramai sekalian,” cetusnya, Senin (4/6).

Mengenai asal muasal dari keberadaan tong sampah tersebut, Anies menjelaskan, dimulai pada saat Pemprov DKI menganggarkan pembelian truk sampah yang dikenal dengan istilah truck compactor pada tahun anggaran (TA) 2015. Pembelian truk direncanakan pada TA 2016.

Ternyata pada 2016, anggaran digunakan untuk pembelian tempat sampah  yang kompatibel dengan truck compactor. Lalu, pembelian dilakukan pada TA 2017.
“Jadi, awalnya adalah pengadaan truknya dulu. Sesudah truk kemudian tempat sampahnya. Tempat sampahnya diadakan pada 2017. Nah, pemilihannya mengikuti barang yang tersedia di LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah). Jadi, barang itu bukan didapat melalui tender, tetapi didapat melalui pembelian lewat e-katalog,” papar Anies di Jakarta, Selasa (5/6).

Dia menambahkan, Jakarta bukan satu-satunya kota yang menggunakan tong sampah buatan Jerman merek Weber. Kota Surabaya sudah terlebih dahulu menggunakan tong sampah sejenis pada 2013. Kemudian, Kota Probolinggo, Ban­dung, Medan, Palembang, dan Malang.

“Nah, pada 2017 Pemprov DKI membeli barang-barang itu. Dan ini bukan ada pada 2018. Ini sudah sejak tahun lalu dan Jakarta bukan satu-satunya,” lanjutnya.


Tidak berantakan

Soal keistimewaan tong sampah yang harganya Rp3,59 juta per unit itu, Anies menjelaskan, sampah yang dimasukkan dapat ditekan menjadi padat sehingga dapat memuat banyak dan tidak berantakan.

“Sebenarnya, sederhana saja, begini. Karena truknya, truk compactor. Artinya barang (sampah) dimasukkan dan di-press di situ sehingga saat menggunakan alat ini, petugas akan membawa ke depan truk, lalu diangkat masuk ke dalam truk untuk dipadatkan. Jadi, itu yang menjadi unik di sini,” ujarnya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Ling­kungan Hidup DKI, Isnawa Adji, menyatakan pada e-katalog LKPP, hanya tersedia dua pilihan tong sampah berkapasitas 660 liter.

Salah satu merupakan produksi Tiong­kok dan satu lainnya Jerman. Produksi Jerman dipilih lantaran memiliki kualitas yang lebih baik dan tesertifikasi berdasarkan standar Eropa.

Pembelian tong sampah buatan Jerman merupakan langkah untuk melakukan pengolahan sampah yang modern. Menurut Adji, selama ini pola pengumpulan sampah dilakukan dengan cara tradisional.

Dimulai dari tukang gerobak mengumpulkan sampah warga permukiman, kemudian dibawa ke tempat penam­pungan sampah sementara (TPS). Setelah itu, diangkat kembali ke truk sampah untuk dikirim ke TPST Bantar Gebang.

“Proses ini tidak efektif dan tidak efisien. Coba kita hitung berapa kali sampah itu naik turun untuk bongkar muat saja. Naik ke gerobak di masing-masing rumah, turun dari gerobak di TPS, naik ke truk sampah, dan turun lagi di TPST Bantar Gebang,” papar Adji. (Nic/J-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya