'Ada yang Salah Saya Mengkafirkan Polisi'

Akmal Fauzi
31/5/2018 22:55
'Ada yang Salah Saya Mengkafirkan Polisi'
(MI/Susanto)

MANTAN petinggi Jemaah Islamiyah, Nasir Abbas, menyebut kepolisian menjadi lembaga paling dibenci teroris. Kebencian itu muncul lantaran kepolisian menjadi penghalang teroris dalam melakukan aksinya.

"Melempar batu saja sudah mereka anggap jihad. Makanya ditemukan aksi teroris pakai golok di Tangerang, lalu di Masjid Falatehan menusuk polisi saat usai salat dan peristiwa di Mako Brimob bukti nyata dimana polisi jadi target," kata Nasir di acara Silaturahim dan Buka Bersama Forkopimkot dengan Ulama dan Ormas di Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Kembangan, Jakarta Barat, Kamis (31/5).

Nasir pun menilai sikap itu keliru. Hal itu dinilai setelah ia mengikuti program deradikalisasi.

"Tapi, polisi yang saya kafirkan terjaga shalatnya. Saya puasa hanya Ramadan mereka (polisi) puasa juga Senin Kamis. Ada something wrong dalam diri saya mengkafirkan polisi," kata Nasir yang saat ini aktif dalam program deradikalisasi di Indonesia.

Pengamat teroris Yayasan Lingkar Perdamaian, Ali Fauzi, menjelaskan kelompok atau jaringan terorisme terus berkembang dan mengalami perubahan di Indonesia. Dari2000-2010, Indonesia lebih didominasi oleh jaringan dari JI.

Target atau sasaran dari jaringan terorisme di Indonesia pun mengalami perubahan. Kurun 2000-2009, kata Ali, target dari jaringan terorisme ini lebih banyak diarahkan kepada simbol-simbol Barat, orang-orang bule, kantor kedutaan besar, dan sebagainya.

Memasuki 2010, target berubah menjadi lingkup nasional, yakni para polisi. Ali menyebut perubahan target itu terjadi ketika jaringan JI mulai meredup dan munculnya jaringan Jemaah Ansharud Daulah (JAD).

"Karena banyak polisi yang membunuh kawan-kawan mereka, menangkapi," kata mantan teroris sekaligus adik dari terpidana kasus bom Bali, Ali Imron itu

Ia pun menegaskan peristiwa teror yang terjadi dalam beberapa hari terakhir bukanlah operasi intelijen atau rekayasa. Tapi aksi ini benar dilakukan orang-orang yang ingin membuat Indonesia gaduh.

"Demi Allah, saya bisa bersumpah itu bukan rekayasa polisi, bukan pengalihan isu. Aksi terorisme itu upaya untuk menggulirkan pemerintah," ujarnya. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya