Akhirnya Mereka Bisa Mendengar

Dede Susanti/X-6
15/5/2018 08:10
Akhirnya Mereka Bisa Mendengar
(MI/DEDE SUSIANTI)

"Pa Pa Pa Pa, Ma Ma Ma Ma..." Meski baru suara kecil yang keluar dari mulutnya, Ihsan Nulkarim sudah bisa melafalkannya tanpa harus melihat isyarat atau gerak bibir.

Siswa kelas 2 sekolah dasar itu langsung menangkap suara dari Dewi Puspita Sari, petugas dari Pusat Alat Bantu Dengar Indonesia (ABDI).

Melihat reaksi Ihsan dan mendengar suara keluar dari mulutnya, Rupi'ah, 50, sang ibu pun, tersenyum. Hari itu dua anaknya menerima bantuan alat dengar. Dari sembilan anaknya, tiga anak Rupi'ah termasuk Ihsan tidak bisa mendengar alias menderita tunarungu.

Sukacita juga terlihat dari Lusi Da Silva, guru sekolah luar biasa (SLB) yang mengantarkan anak didiknya, Anindita Nayla, kelas 2 SD.

"Nayla dari lahir enggak bisa dengar. Saya berterima kasih mewakili keluarganya. Dia diasuh sama kakek neneknya yang kondisi ekonominya kurang mampu," kata Lusi.

Senyuman semringah juga keluar dari mulut Andi dan Maytaysa, ayah dan anak perempuannya yang kini duduk di kelas 2 SMP di Kota Bogor.

Kebahagiaannya berdasar karena anaknya yang semula divonis empat dokter tidak akan bisa lagi mendengar, kini ternyata sudah bisa mendengar.

Kemudian, ada Ayu dan Caca yang langsung unjuk kebolehan menari Jaipong, setelah menerima alat bantu tersebut. Dengan alat bantu baru, mereka bisa mendengar dengan jelas. Gerak tari dan entakan kaki mereka seirama.

Mereka ialah anak-anak yang menerima bantuan alat dengar dari program Telkom Difabel Care, kerja sama Kick Andy Foundation dengan PT Telkom dan ABDI dan Difabel Action Bogor.

Direktur Kick Andy Foundation Ali Sadikin mengatakan penyerahan bantuan hari itu hanya simbolis karena secara keseluruhan, pada hari yang sama juga dilakukan penyerahan di Pemalang dan Tangerang Selatan.

"Kita berharap program ini bisa membantu anak-anak kita, terutama yang masih kecil yang mengalami gangguan pendengaran ataupun juga mengalami kesulitan bicara," kata Ali Sadikin, Senin (14/5).

Karena, menurutnya, ketika kita bantu alat dengar, akan menjadikan alat ini sebagai alat pemacu belajar mendengar, tahu ada isyarat, tahu ada suara.

Setelah itu, lanjutnya, program ini akan dilanjutkan dengan terapi. Mereka harus diajari bagaimana bicara, mengerti orang lain berbicara supaya bisa berkomunikasi yang baik.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya