Putra Pendiri Granat Positif Narkoba

Mal/J-2
11/4/2018 08:10
Putra Pendiri Granat Positif Narkoba
(Ilustrasi)

MASIFNYA peredaran narkoba juga menimpa Dewan Pendiri Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Henry Yosodiningrat. Putra kedua anggota Komisi II DPR RI Fraksi PDI-P itu terindikasi mengonsumsi narkoba.

Sebelumnya, beredar kabar putra Henry Yosodiningrat ditangkap karena dugaan terkait dengan narkoba. Namun, polisi justru menyebut putra anggota DPR itu hilang dan mereka diminta untuk mencarinya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono, mengatakan, pada Senin (9/4) Henry menghubungi petugas Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya untuk meminta bantuan mencari anaknya karena hingga larut malam tidak pulang ke rumah.

"Kemudian setelah dibantu cari, ditemukan anaknya di SPBU daerah Jakarta Selatan dan oleh anggota di bawa ke Polda Metro," kata Argo dalam keterangannya, kemarin.

Saat penggeledahan, polisi tidak menemukan adanya barang bukti narkoba pada putra Henry. Kendati demikian, berdasarkan hasil tes urine, ia positif mengonsumsi narkoba.

"Tidak ditemukan obat terlarang yang ada padanya. Sesuai permintaan orangtua dilakukan tes urine, hasilnya positif, akhirnya dipulangkan diserahkan ke orangtuanya untuk di periksa ke dokter," tegas Argo.

Sementara itu, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DKI Jakarta menyebut 113 wilayah di Jakarta rawan peredaran narkoba. Wilayah itu saat ini tengah dipantau dan dibina. "Data kami ada 113 wilayah rawan narkoba tersebar di lima wilayah Jakarta. Ada yang di permukiman, seperti Kampung Ambon, Pasar Baru, dan Kampung Boncos. Ada juga di rumah susun (rusun)," kata Kepala BNNP DKI Jakarta, Brigjen Johnypol Latupeirissa, kemarin.

Pihaknya, jelas Johny, terus menyelidiki dan melakukan operasi untuk memberantas narkoba. Ada beberapa jenis narkoba yang banyak digunakan di Jakarta. "Yang paling banyak di Jakarta itu sabu, ekstasi, ganja. Nah ganja ini terbanyak penggunanya di kalangan pelajar dan mahasiswa, pekerja," katanya.

Ia menambahkan, beberapa wilayah yang rawan peredaran narkoba sudah dibina dengan pemberian pelatihan, seperti kerajinan tangan untuk warga. Hal itu dilakukan agar warga bisa beralih profesi.

"Di Kampung Ambon masih berjalan. Kalau pembinaan biasanya kami survei dulu mana yang paling rentan, itu yang kami lakukan pembinaan," ujarnya.

Terkait dengan masih masifnya peredaran narkoba di Kampung Boncos, Palmerah, Jakarta Barat, ia menyebut para pengedar maupun pemakai merupakan mantan pengguna putau yang kini sudah langka.

"Putau itu sulit sembuhnya, sementara barang sudah jarang beredar. Ada pengedar sabu, ganja, di Kampung Boncos itu temuan kami uangnya untuk beli obat penurun ketergantungan putau," jelasnya.

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya