Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KECENDERUNGAN keluarga Indonesia mengandalkan gawai sebagai alat permainan anak turut membawa dampak. Anak-anak cenderung berkutat di dalam rumah memeloti layar gawai.
Definisi mengenai anak-anak bermain pun berubah. Anak jarang mengenal permainan tradisional yang umumnya dilakukan di luar rumah.
Salah satunya Brian, 7. Ia tak pernah mengenal permainan luar ruangan seperti engklek. Sejak balita, kedua orangtuanya yang sibuk bekerja memberikan mereka ponsel pintar dan playstation. Cara itu digunakan agar buah hati mudah diawasi dalam arti hanya bermain di dalam rumah.
"Anak-anak sekarang tidak mengerti permainan tadisional. Mereka hanya bermain gadget," kata ibu Brian, Debi.
Bekerja sama dengan Kementerian Sosial (Kemensos) dan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), PT Johnson & Johnson menggelar gerakan #JamMainKita di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Minggu (25/3). Area silang timur Monas disulap menjadi arena permainan tradisional. Antara lain engklek, gobak sodor, kelereng, bentengan, dan lompat karet.
Salah satu pengunjung, Sandri, 33, mengamini permainan tradisional memang hampir hilang di perkotaan. Aktivitas anak-anak lebih sering dihabiskan di dalam rumah.
"Anak saya untungnya masih mengenal permainan tradisional. Kita menyebutnya permainan kampung. Saya tidak kasih anak saya handphone dulu. Mereka boleh bermain handphone hanya di hari Sabtu atau Minggu," kata ibu dua anak itu.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi mengatakan di era serba digital ini, anak-anak memang kian jauh dari permainan luar ruangan. Gawai menjadi alat permainan utama generasi Z.
"Penggunaan gawai masih dominan pada anak. Tren di perkotaan banyak. Di perdesaan juga ada seperti itu."
Menurutnya, kecenderungan orangtua memberikan gawai kepada anak sejak dini berdampak negatif. Anak menjadi kurang bersosialisasi dengan teman sebaya. Kesehatan dan kebugaran fisik pun bisa terganggu karena anak jarang bergerak.
Dia mencontohkan banyak anak cenderung kurang stabil emosinya akibat bermain gawai. Anak menjadi mudah marah saat ditegur ketika terlalu lama bermain gawai.
Permainan tradisional, menurut Seto, memiliki banyak memberi manfaat positif. Antara lain kecakapan sosial, emosional, fisik, kejujuran, dan kerjasama.
"Emosi anak bisa berkembang positif. Maka dari itu gerakan agar anak kembali ke permainan tradisional amat penting. Orangtua perlu menyediakan waktu bagi anaknya karena ini bagian dari mendidik," pungkas Seto. (OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved