Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMBANGUNAN tempat tinggal sementara (shelter) di Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara, dijanjikan rampung dalam waktu tiga bulan.
Sebanyak 500 warga yang semula tinggal di bangunan semi permanen terbuat dari triplek alias bedeng, akan dipindahkan ke shelter begitu selesai dibangun. Proses pemindahan pun dilakukan secara bertahap.
“Katanya bakal selesai dalam waktu tiga bulan. Di sini ada 200 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah 500 warga. Dari empat RT yang ada yaitu RT 01, 02, 11 dan 12 hanya RT 01 dan RT 12 yang kebagian unit shelter. Sisanya RT 02 dan RT 11 menjadi kewenangan PD Pasar Jaya,” kata Maisaroh, warga Kampung Akuarium, Minggu (7/1).
Sesuai dengan janji Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, sebelum akhirnya dibangun rumah susun (rusun), warga Kampung Akuarium akan dipindahkan ke shelter terlebih dulu. Warga awalnya meminta dibangun 128 unit shelter, namun PT Jaya Konstruksi selaku kontraktor hanya menyanggupi pembangunan 107 unit shelter karena keterbatasan lahan.
Pantauan Media Indonesia, sebuah tenda berwarna biru dengan logo Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah dibangun dan berisi 10 KK. Warga tinggal di dalam tenda tersebut sebelum shelter terbangun. Proses pembangunan shelter saat ini dalam pengerjaan pengecoran dan meratakan tanah dengan alat berat.
Belum seluruh bangunan bedeng dimusnahkan, di sekitar area masih tampak bedeng-bedeng terbangun dan diisi oleh warga berhimpit-himpitan. “Nanti setelah shelter jadi warga tinggal di sana selama dua tahun. Sambil menunggu rusun terbangun di sini,” ungkap Maisaroh.
Spesifikasi konstruksi shelter pun sudah ditentukan. Untuk ceiling yang terbangun akan berbahan gypsum membentuk ruang bantalan antara atap dan ruangan.
Sementara, atap rangka kayu atau baja ringan akan dibangun swadaya oleh masyarakat, sehingga memudahkan proses perawatan dan perbaikan. Adapun atap gelombang akan menggunakan material seng.
Shelter itu masing-masing akan berjarak 3 meter untuk memberi ruang warga berjalan. Satu shelter terdiri dari empat unit yang diisi empat keluarga. Bentuk shelter berbentuk rumah panggung dengan teras yang digunakan untuk komunitas berkumpul.
“Masing-masing unit juga akan mendapat kamar mandi,” ujarnya. Rencananya di akan ada tiga blok yang dibangun di sana. Blok A berisi 52 unit, Blok B berisi 48 unit dan Blok C berisi 24 unit.
Maisaroh mengaku merasa bersyukur dengan adanya shelter di kampungnya. Pasalnya, sejak penggusuran ia menolak untuk pindah ke rusun Rawa Bebek yang jauh dari sumber mata pencahariannya dan suami.
Yaya, 50, salah seorang warga yang bertahan pasca penggusuran mengaku pembangunan shelter sudah sesuai harapannya. Kala penggusuran, Yaya menolak pindah lantaran di sanalah pundi-pundi uangnya terkumpul. Setidaknya ia memiliki lima bedeng yang dia kontrakan.
“Ngapain saya pindah kalau enggak dikasih uang? Kalau tak ada Satpol PP saya bangun lagi. Saya yang biasanya ngontrakin malah disuruh ngontrak di rusun,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Pemprov DKI Jakarta Agustino Darmawan mengatakan penataan kawasan itu menghabiskan anggaran Rp15 miliar.
“Shelter sifatnya bangunan sementara. Supaya manusiawi di atas bedeng itu ada shelter. Bahan dari beton tipis. Unitnya sama, tapi menaikkan kualitasnya saja. Itu sebenarnya bisa jadi rumah beneran," tutur Agustino.
Selain kampung Akuarium, pembangunan shelter juga akan menghabiskan Rp6 miliar di kawasan Bukit Duri. Namun untuk Bukit Duri, ia mengatakan pembangunan di kawasan itu belum dilakukan karena belum ada lahan kosong. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved