PULUHAN bus Trans-Jakarta merek Zhong Tong ditarik dari operasional atau dikandangkan pascaterbakarnya lagi satu bus merek yang sama.
Penarikan bus harus dilakukan meskipun bakal mengganggu pelayanan transportasi massal tersebut.
Menurut Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, tidak ada pilihan lain kecuali menyetop operasional 30 bus merek Zhong Thong tersebut demi memberikan jaminan keselamatan bagi penumpang Trans-Jakarta.
Bus tersebut disetop operasionalnya untuk dievaluasi total.
"Satu bus saja ada masalah, seluruh bus harus dicek. Makanya seluruh bus (Zhong Tong) kita setop operasinya untuk pengecekan. Bila layak, segera beroperasi lagi," jelasnya, Selasa (10/3).
Ia menyebutkan, dalam membenahi dan meningkatan kualitas transportasi massal, yang harus diperhatikan bukan hanya faktor kenyamanan.
Faktor keselamatan penumpang pun tetap menjadi nomor satu. Karena itu, jelasnya,
Pemprov DKI memutuskan, bila ada satu bus Trans-Jakarta mogok, rusak, atau terbakar saat beroperasi seperti yang terjadi Minggu (8/3), bus lain dengan merek sama harus dihentikan operasionalnya.
Djarot mengaku mendapat laporan bahwa bus Trans-Jakarta yang sering terbakar ialah yang menggunakan bahan bakar gas (BBG).
Kebakaran terjadi akibat angkutan umum tersebut terlalu sering beroperasi sehingga tabung gasnya kerap overheating (panas) dan mudah terbakar.
"Salah satu dampak menggunakan BBG ialah sering overheating. Maka pemeliharaan harus ditingkatkan dan lebih baik. Kita harapkan kasus terbakarnya bus Trans-Jakarta menjadi pelajaran berharga untuk semakin profesional," ujarnya.
Karena itu pula, Wagub menginstruksikan PT Transjakarta untuk meningkatkan pemeriksaan, pengecekan, dan pengevaluasi kondisi angkutan tersebut agar kasus kebakaran dan mogok di jalan tidak terulang.
51 bus baru Seiring bertambahnya umur operasional armada bus Trans-Jakarta, Pemprov DKI berniat meremajakan bus-bus yang beroperasi sejak 2004 dan 2005.
Armada tersebut, menurut Djarot, memang sudah waktunya dikandangkan dan diganti dengan yang baru.
Untuk memperbarui armada angkutan andalan Ibu Kota tersebut, PT Transjakarta bahkan sudah membeli 51 bus merek Scania dan dijadwalkan beroperasi mulai Juli mendatang.
Bus tersebut kini karoserinya tengah dirakit di kawasan Magelang, Jawa Tengah.
Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum PT Trans-jakarta Sri Kuncoro mengatakan total bus untuk 12 koridor sebanyak 823 unit.
Dari jumlah itu, 418 bus di antaranya milik Pemrov DKI (PT Transjakarta) dan 405 lagi milik operator swasta.
Sayangnya, kata Kuncoro, dari jumlah armada milik PT Transjakarta, setiap hari hanya sekitar 400 unit yang bisa dioperasikan.
Parahnya lagi, setiap hari ada 120 bus yang mogok saat beroperasi.
Tidak mengherankan bila pelayanan bus Trans-Jakarta terganggu sebab 280 bus harus melayani 12 koridor melalui 218 halte dengan panjang seluruh koridor 210,31 kilometer.
Dampaknya, waktu tunggu penumpang di setiap halte menjadi lama. (J-2)