Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
"PARKIR, parkir, parkir," teriak dua pemuda tanggung di depan sebuah gedung di area kompleks Taman Fatahillah, Kota Tua. Sebuah motor yang melambat di belokan Jalan Bank itu kemudian menepi, tampak ragu-ragu menerima tawaran pria penjaja jasa parkir. Tak lama, pengendara motor menurut dan masuk ke gedung tua yang ada di dekat jalur masuk pejalan kaki ke kompleks tersebut.
Parkiran dalam gedung tua di kawasan itu kian banyak peminatnya. Meski liar, parkiran indoor itu dinilai lebih praktis. "Lebih pilih di gedung-gedung. Soalnya kalau mau jalan-jalan di dalam area Fatahillah parkir paling dekat di situ. Kalau di Jalan Cengkeh kejauhan banget," kata Fitri, 30 tahun.
Ia semula tak tahu bahwa area dalam Taman Fatahillah disterilkan dari kendaraan. "Saat itu bingung mau parkir di mana, terus banyak abang-abang yang kasih tanda, 'di sana saja' sambil ngasih arahan ke gedung," tutur warga Kebon Jeruk, Jakarta Barat itu.
Sejak kompleks steril, gedung-gedung tua malah menjelma jadi tempat parkir. Gedung yang punya akses langsung ke jalan raya akhirnya jadi pilihan pengunjung. Setiap harinya lapak parkir liar dipenuhi kendaraan, baik di dalam gedung maupun di pinggir jalan.
Dari sekian banyak jenis parkir liar, hingga kini, parkiran dalam gedung masih menjadi pilihan Fitri. "Indoor malah enak, pas hujan enggak basah. Daripada diparkir luar sepanjang pinggiran yang deket kali." ujarnya.
Hal yang sama diakui Fauzi, 21, warga Kalideres, Jakarta Barat, yang sering beraktivitas di kawasan tersebut. Ia merasa kesulitan bila harus parkir kendaraan di area parkir resmi di Jalan Cengkeh. "Pekerjaan saya menuntut bergerak cepat karena saya biasanya buru-buru. Kalau parkir di Jalan Cengkeh, jalan kaki ke dalamnya jauh banget," akunya.
Tak seperti parkir resmi, tiap kendaraan yang memilih parkir liar bisa bebas memarkir tanpa ketentuan waktu. Untuk motor Rp5.000 dan Rp10 ribu untuk mobil.
Fauzi memilih parkir di gedung Pos Indonesia di Jalan Pos Kota. "Kalau parkir di Jalan Cengkeh kan outdoor, motor bisa kebasahan, kalau di dalam gedung rasanya lebih aman saja. Terus jauh lebih murah juga, " ungkapnya.
Kepala Unit Pengelolaan Kawasan (UPK) Kota Tua, Norviadi S Husodo mengakui keberadaan parkir liar yang disebutnya membuat wajah Kota Tua menjadi semrawut. Menurutnya, hal itu menjadikan penataan yang sedang dikerjakan pemprov jadi terhambat."Padahal Asian Games ini kan sebentar lagi," imbuhnya.
Namun, Norviadi mengaku pihaknya tidak bisa mengatasinya karena penindakan parkir liar ada di tangan dinas perhubungan.
Menyoal hal itu, Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Barat Anggiat Banjar Nahor mengaku telah beberapa kali menertibkan parkir liar. Tindakan mengempiskan ban, menderek, dan menilang kendaraan yang parkir liar, ujarnya, sudah dilakukan. "Kami sudah tempatkan anggota dan kendaraan derek. Yang ingin buka parkir langsung kami tegur," ujarnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved