Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BANGUNAN seluas 2x3 meter yang tanpa kakus itu sudah ditinggali Herlani, 37, selama hampir 10 tahun lebih.
Meski hanya sepetak dan lantai keramiknya banyak retak, rumah di kawasan Pisangan, Jakarta Timur, itu sudah bagai istana baginya.
Namun, belakangan, dari sela-sela tembok petakan itu muncul kecoak, belatung, cacing, bahkan kalajengking.
"Keterlaluan, ternyata sampah menggunung tepat segini banyak tidak diangkut," cetusnya sambil meradang ketika menemukan penyebab munculnya masalah hewan-hewan itu di dalam rumahnya.
Herlani sadar, tinggal bersisian dengan bak sampah bukanlah pilihan hidup sehat.
Jika jadwal angkut sampah molor, orang pertama yang terkena imbasnya ialah dia.
Bak sampah berukuran 1 meter kubik itu itu menampung sampah dari enam bedeng yang berada di belakang rumahnya.
"Saya kesal sekali. Ini kan bukan sampah saya, sampah warga lain. Tapi selalu saya yang harus kontrol. Apa susahnya melapor? Tinggal pakai handphone. Aplikasinya ada. Akhirnya saya yang lapor," tegasnya.
Yang dimaksudnya ialah aplikasi pengaduan Qlue yang digagas Basuki Tjahja Purnama semasa menjadi gubernur.
Baginya, aplikasi tersebut sangat berjasa. "Saya pasti (lapor) soal sampah lewat Qlue.
Laporan langsung ditindaklanjuti sih," imbuhnya.
Tidak berbeda dengan Herlani, Boy, 37, juga mengandalkan aplikasi Qlue sebagai tempatnya mengadu. Yang dia keluhkan pun seputar persoalan sampah.
Di lingkungan rumahnya yang berada di sekitar Pasar Jangkrik di Pramuka, orang akan sangat mudah menemukan tumpukan sampah.
"Wah, kalau tinggal di sekitar pasar, berabe. Kalau hari cuti libur nasional, petugas kebersihan enggak datang, sampahnya numpuk berhari-hari. Repot kalau enggak dicereweti biar diangkut. Kami pasti yang dirugikan," ujarnya.
Kini kebiasaan Boy ngomel-ngomel kepada petugas kebersihan telah berubah.
"Itu kan dulu saya harus ngomel sama petugas kebersihan. Sekarang tinggal foto, klik, kirim, tinggal tunggu petugasnya datang. Ha...ha...ha," gelaknya senang sambil menunjukkan aplikasi yang diunduhnya sekitar setahun lalu itu.
Agus, 35, yang juga warga Matraman berharap aplikasi itu tidak pernah dihapuskan.
"Jangan dihilangkan aplikasinya. Tolong dipilah, sistem yang memudahkan warga ya jangan dihapus."
Menurutnya, aplikasi itu friendly-user. Ia dan tetangga-tetangganya sudah terbiasa menyampaikan keluhan di aplikasi yang tidak rumit itu.
"Kalau aplikasi itu dihapuskan, berarti kita bukan warga zaman now dong. Balik zaman dulu lagi, semua harus manual," tegasnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved