Transportasi yang Membentuk Budaya Tertib

Usman Kansong/X-6
18/12/2017 07:06
Transportasi yang Membentuk Budaya Tertib
(MI/USMAN KANSONG)

ORANG sering kali membayangkan, sekurang-kurangnya membandingkan, transportasi publik di Jakarta seperti di Singapura. Namun, perbandingan itu mungkin berlebihan, tidak apple to apple. Jumlah penduduk dan kultur masyarakat kedua kota berbeda bagaikan bumi dan langit.

"Saya kira kita bandingkan saja tansportasi publik di Jakarta dengan di Bangkok. Jumlah penduduk dan kulturnya kurang lebih sama," tutur Presiden Direktur Adaro, Boy Tohir, di Bangkok, Thailand. Boy Tohir berada di Bangkok untuk bertandang ke Electricity Generating Aithority of Thailand (EGAT), perusahaan listrik Thailand. EGAT membeli batu bara dari Adaro.

Pada 2010 penduduk Bangkok dan Jakarta masing-masing sekitar 10 juta jiwa.Penduduk Singapura hanya separuhnya. Kultur warga Jakarta dan Bangkok bisa dikatakan setali tiga uang.

Minggu (17/12), saya dan sejumlah pemimpin media 'mencicipi' transportasi publik di Bangkok, yakni BTS (Bangkok Mass Transport System) dan MRT (mass rapid transit). BTS kira-kira setara LRT (light rapid transit) yang sedang dibangun di Jakarta. Dari hotel tempat menginap, saya berjalan menelusuri trotoar nyaman dan bersih karena tiada sampah dan pedagang kaki lima.

Saya menaiki tangga menuju skywalk. Tangga menuju BTS berupa tangga biasa dan eskalator. Skywalk ini terintegrasi selain dengan stasiun BTS dan MRT, juga dengan pusat perbelanjaan bahkan hotel. Untuk mencapai stasiun BTS, saya naik satu tingkat lagi.

Masaifuloh Labuya, warga Bangkok yang menemani saya, membelikan tiket BTS. Tiket bisa dibeli di mesin tiket dengan uang logam atau langsung ke loket. Tiket berbentuk kartu cip yang dimasukkan di pintu masuk.

Harga tiket dari Chit Lom menuju Asok ialah 22 baht atau sekitar Rp8.800. Harga itu terbilang mahal untuk perjalanan yang tak sampai 5 menit. Saat memasuki BTS, penumpang tertib, tidak berebut. Di dalam BTS, meski padat, penumpang tidak sampai berdesakan. Tak perlu khawatir ada copet. Setiba di Asok, saya menuruni tangga hingga stasiun MRT bernama Sukhumvit yang terletak di bawah permukaan tanah. Tujuan kami stasiun berikutnya, yakni Phetchaburi. Penumpang pun tertib saat masuk ke MRT.

Nyoman Mahardika, warga Indonesia yang sudah 15 tahun bermukim di Bangkok, mengatakan transportasi publik telah merawat dan membentuk budaya tertib warga Bangkok. Budaya itu 'menular' ke jalan raya. Saat naik bus, di jalan padat merayap, tak sekali pun terdengar klakson. Tidak pula saya melihat mobil menyalip kendaraan di depannya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya