Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJUMLAH warga Jalan Masjid Al Ridwan, Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang tinggal di atas badan kali tidak mengantongi sertifikat rumah.
Pasalnya, untuk mengurus sertifikat rumah, warga yang sebagian tergolong warga ekonomi kelas menengah ke bawah, enggan membayar mahal biaya pengurusan. Sebagian dari mereka juga membeli rumah permanen yang tidak memiliki sertifikat.
Ruswati, 50, warga RT 14/RW 06 Nomor 157 mengatakan, sejak pembelian rumah ia tidak diberi sertifikat oleh pemilik rumah sebelumnya. Rumah seluas 17 meter persegi itu hanya dilengkapi dengan surat rekomendasi kepemilikan dari pihak Kelurahan Jati Padang, Jakarta Selatan.
“Saya cuma buruh cuci tidak sanggup kalau harus bayar jutaan rupiah untuk sertifikat. Sampai stres saya memikirkannya. Sejak pertama kali beli juga tidak dapat sertifikat,” kata Ruswati ketika ditemui di kediamannya, Rabu (13/12).
Penelusuran kepemilikan sertifikat rumah warga Jati Padang dilakukan setelah kejadian banjir setinggi satu setengah meter di kawasan tersebut, Senin (11/12). Air meluap hingga menyebabkan tanggul yang terbuat dari kantong-kantong pasir hasil swadaya masyarakat, jebol.
Menurut penuturan warga, luapan air terjadi begitu cepat hingga salah satu warga harus memecahkan kaca dengan linggis untuk menyelamatkan diri agar bisa keluar rumah.
Gubernur DKI Anies Baswedan yang menyambangi lokasi mengatakan, banjir disebabkan saluran air kali menyempit sehingga arus air tidak lancar. Hal itu disebabkan bagian atas badan sungai diokupasi rumah warga dan satu musala milik seorang tuan tanah.
Fatimah, istri dari Ketua RT 003/RW 06 mengatakan banjir yang terjadi di areanya sudah bergulir dari tahun ke tahun. Area bekas rawa dan empang itu semula memiliki sungai selebar sekitar 4-5 meter. Namun saat ini faktanya tinggal 2,5 meter. Sejak 2003, semakin banyak rumah di bantaran sungai dan warga membuat jalan akses sendiri di samping rumah.
“Tahun 80-an saya sudah di sini cuma beda RT. Kawasan ini dulu masih banyak lahan kosong dan sungai lebih lebar dibandingkan sekarang. Makin lama makin banyak rumah yang terbangun. Sampai ada juga pembangunan musala yang sebagiannya berada di atas sungai,” ungkap Fatimah.
Tak jauh dari tanggul memang berdiri sebuah musalah. Fatimah menyebut jika volume air naik terkadang air tersendat di area itu. Akibatnya sebagian dinding musala tahun lalu dibobok, sehingga saluran air tetap lancar. Di sisi lainnya Fatimah mengungkapkan, dinding pemisah antara sungai dan tanah kosong milik warga pun kian maju.
“Sebelumnya sungai itu lebarnya sampai tanah yang ditanami tanaman katuk situ. Sekarang jadi sempit dan dibuat dinding,” imbuhnya.
Sebagai istri dari ketua RT, Fatimah kenal baik dengan para warga. Ia mengamini bahwa banyak warga di areanya yang tidak memiliki sertifikat, karena ketika membeli rumah sudah seperti itu. Untuk mengurus sertifikat warganya keberatan akibat biaya yang mahal.
Dari RT 003 ke RT 014 lebar sungai kian menyempit. Ada rumah warga yang membuat jembatan sendiri untuk menyambung rumah yang di pinggir sungai dengan jalan akses selebar dua meter. Persis di ujung sungai lebih dari empat pintu kontrakan berdiri. Dari situ sudah tidak tampak lagi saluran air.
“Kemudian warga buat sendiri di jalan semacam tralis yang dipasang untuk kalau air hujan masuk ke situ. Ini badan sungai juga tempat kita berdiri di sini,” tandas Fatimah.
Saluran sungai pun kian sempit dan hanya bisa terlihat di ujung kontrakan. Saluran menyempit hingga tak ubahnya selokan biasa selebar satu setengah meter. Menjadi wajar bila debit air melimpah kemudian banjir terjadi di sekitar kawasan Jalan Masjid Al Ridwan yang terbilang lebih rendah dari dataran sekitarnya.
Untuk menuju kawasan itu memang ada beberapa jalanan yang menurun, sehingga kawasan berbentuk cekung. Warga di bantaran sungai pun beberapa kali sudah meninggikan tembok pemisah antara sungai dan jalan akses. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved