Struktur Kalimat Sandiaga Berpotensi Turunkan Kredibilitas

Yanurisa Ananta
12/12/2017 21:53
Struktur Kalimat Sandiaga Berpotensi Turunkan Kredibilitas
(ANTARA)

GAYA komunikasi Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno yang biasa berbicara dengan kalimat tidak terstruktur, berpotensi menurunkan kredibilitas.

Bila kebiasaan itu tetap berlanjut bisa terjadi salah paham baik kepada masyarakat, media, atau Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).

"Kalau kemudian struktur tidak jelas bisa jadi salah paham akan membuat SKPD bingung. Apalagi Jakarta dengan permasalahan sosial yang banyak sekali. Kalau instruksi tidak jelas maka arah kebijakan juga akan tidak jelas," kata pengamat komunikasi politik Universitas Gajah Mada (UGM) Dodi Ambardi, Selasa (12/12).

Menurut Dodi, dari masa ke masa karakter gubernur Jakarta terkenal jernih dalam berlogika. Mantan Gubernur Fauzi Bowo yang kental dengan budaya Betawi cenderung berkomunikasi dengan lugas. Joko Widodo meskipun berlatar kultur Jawa, dinilai relatif sopan dan omongannya jernih. Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok juga dikenal lugas.

Misalnya, saat Sandiaga ditanya oleh wartawan soal hujan di Jakarta, Senin (11/12), ia menjawab, "Ini adalah fenomena alam. Allah lagi ngirimin hujan."

Menurut Dodi, Sandiaga hanya menyatakan sesuatu yang sudah pasti (stating the obvious).

"Cara mengatasinya itu yang bagaimana. Bukan soal keimanan. Sandi saya melihatnya belepotan. Kadang logikanya terkilir menjadi tidak jernih dan cara menyelesaikan persoalan hubungan sebab akibatnya tidak ketemu," tandas Dodi.

Dalam beberapa pernyataannya, Sandiaga pun cukup sering menggunakan bahasa Inggris. Namun, hal itu pun dinilai hanya sebagai branding untuk menciptakan citra yang terdidik, elite dan berkelas. Padahal, jika terjadi kekeliruan akan merugikan dirinya sendiri. Terlebih, masyarakat belum tentu menangkap makna yang jelas.

"Tidak to the point akan menurunkan kredibilitas," ujarnya.

Sementara itu, Anies Baswedan dinilai cenderung berlogika dengan baik dengan artikulasi yang tertata. Namun, kecenderungan umum saat ini ingin berbeda dengan Ahok yang secara objektif diakui kerja kerasnya. Di sisi lain, apa yang disebut Anies-Sandi semisal rumah berlapis dan naturalisasi alih-alih menyebut normalisasi.

"Yang barunya kecil sehingga tidak bisa dibedakan, misalnya rumah berlapis, intinya rusun juga. Itu kan melanjutkan kebijakan gubernur lama," imbuhnya.

Namun demikian, dirinya meminta masyarakat untuk bersangka baik selama satu tahun apakah ada perubahan dalam cara komunikasi politiknya. "Untuk orang baru kita harus berprasangka baik dulu," paparnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya