Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
HANYA empat buah dinding beton yang mengelilingi kamar kosan seluas 3 meter x 2 meter menjadi saksi perbuatan keji Novi Wanti. Tak ada suara terdengar dari dalam kamar kos nomor 203 di Jalan Asem Raya, Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, ketika penyiksaan Greinal Wijaya dimulai.
Dalam bekapan plastik di kepala, bocah berusia 5 tahun itu meronta ketakutan. Namun, rontaannya sama sekali tidak terdengar lantaran kepalanya sudah dibekap kantong plastik. Greinal pun tewas lantaran kehabisan napas.
Bryan Adam, pemilik kos tempat Novi tinggal, mengatakan, saat kejadian tidak ada teriakan atau tangisan dari kamar kos yang disewa Novi. Ia hanya melihat Novi dengan tergesa-gesa membopong anaknya yang sudah terkulai lemas, Sabtu (11/11), sekitar pukul 17.30 WIB.
"Padahal, kondisi kosan saat itu sedang ramai, tapi ketika Greinal disiksa tidak terdengar apa pun dari kamar Novi,” kata Adam.
Anehnya, kata Adam, saat Novi membopong tubuh anaknya menuju ojek online yang dipesannya, tangan dan kaki Greinal terlihat banyak bekas memar. Bentuk luka itu mirip bekas lilitan tali rapiah. Muka Grenial pun terlihat membiru. Namun, Adam belum dapat memastikan kondisi Greinal sudah meninggal atau belum.
"Saya hanya lihat dia gendong anaknya, ditanya mau ke mana, jawabnya cuma mau ke rumah sakit," kata Adam.
Namun, sesampainya di RS Graha Kedoya, nyatanya nyawa Grenial pun tidak sempat tertolong. Luka memar di sekujur tubuh Greinal menjadi saksi penyiksaan Novi atas dirinya.
Selama satu tahun indekos di tempat Adam, Novi terkenal jarang berkomunikasi dengan tetangga sekitar. Ia lebih banyak berdiam diri di kamarnya. Aktivitas Novi sebatas mengantar anak semata wayangnya yang berusia 5 tahun itu ke sekolah. Ia juga tidak bekerja. Setiap harinya, mereka berdua hanya dihabiskan di dalam kamar kos.
"Dia bayar kos juga dari uang hasil pemberian orangtuanya," jelas Adam.
Rahman, penjaga kawasan kos Novi menilai, pelaku memang sosok wanita yang sangat kasar pada anaknya. Pengelola pernah meminta pelaku pindah atas perilakunya tersebut.
"Dia kasar sama anaknya, pernah kita suruh dia pindah kosan, tapi enggak mau," kata dia.
Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Pol Royke Harry Langie, mengatakan, dari hasil pemeriksaan sementara, Novi nekat menghabisi anak kandungnya dengan alasan ingin memberi pelajaran. Kebiasaan Greinal yang suka ngompol menjadi alasan Novi nekat menyiksanya sampai meninggal dunia.
"Karena suka mengompol di kasur dia jadi kesal," kata Royke.
Menurut Royke, sikap korban dianggap Novi tak lagi mau menurut kata orangtua. Ini lah yang membuat Novi tambah geram.
Namun, kata Royke, alasan lain yang menjadikan ibu muda ini nekat menganiaya anaknya lantaran stres terimpit masalah ekonomi keluarga. Dalam desakan tak memiliki pekerjaan, Novi diwajibkan menghidupi diri dan anaknya. Kondisi ini membuat dirinya menjadi stres.
"Karena tidak memiliki pekerjaan, dia nggak sanggup menghidupi dirinya dan anaknya," kata dia.
Akibat perbuatan wanita itu, terancam mendekam di penjara selama 15 tahun lantaran dijerat Pasal 80 Ayat 3 junto Pasal 76 C Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved