Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
JARAK pandang mata pengendara mulai berkurang ketika memasuki Jalan Kedoya Raya di depan Jakarta Eye Center, Jakarta Barat, ke arah Tengerang.
Sekitar 100 meter ke arah Barat dari jalan debu-debu terlihat memenuhi udara. Bak robot, pengendara motor menurunkan kaca helmnya. Kendaraan yang melintas, terutama motor, goyangannya begitu kencang lantaran ban berjalan di atas kerikil dan pasir. Padahal, beberapa hari yang lalu kondisi jalanan aspal dalam kondisi mulus.
Kondisi jalan demikian itu nyatanya rusak bukan karena kendala alami. Jalanan dikeruk hingga mengeluarkan kerikil, debu dan pasir sebelum akhirnya diaspal. Namun, sejumlah warga Jakarta yang biasa beraktivitas di sekitar Jalan Kedoya Raya mempertanyakan urgensi pengaspalan di ruas jalan tersebut.
“Kayaknya sebelum-sebelumnya jalanan masih bagus-bagus saja ya. Kurang tahu deh tuh kenapa diaspal lagi, buat ngabisin anggaran kali ya,” kata Wahyu, 29, seorang pegawai swasta yang berkantor tak jauh dari lokasi pengaspalan Jalan Kedoya Raya, Rabu (8/11).
Menurut Wahyu, daripada anggaran pengaspalan digunakan untuk jalanan yang belum rusak, lebih baik anggaran digunakan membenahi jalan yang benar-benar rusak. Jalan-jalan di perkampungan masih banyak yang masih berlubang hingga menyebabkan pengendara terperosok.
Hal serupa juga diakui Diran (27), pegawai swasta. Ia mengaku tidak terganggu dengan kondisi jalan yang demikian, namun ia khawatir pengguna jalan yang biasa melewati Kedoya Raya dengan mulus harus kaget dengan kondisi hasil kerukan itu.
“Saya sih enggak terganggu. Debunya masih bisa diatasi lah. Tapi khawatir pengguna jalan belum tahu kondisi jalan yang rawan tergelincir seperti itu. Lagi pula kenapa diaspal sih? Perasaan saya kemarin masih bagus deh,” ujar Diran.
Dari pantauan, pengerukan jalan dilakukan sepanjang 200 meter di sebagian Jalan Kedoya Raya. Saat ini, pengerjaan aspal dilakukan di ruas jalan yang menuju Tangerang. Melewati jalan itu, pengendara terpaksa harus memperlambat jalannya. Sementara, sisi jalan ke arah sebaliknya pengerjaan aspal sudah rapi.
Jalan Pilar Mas Utama yang letaknya tak jauh dari pengerjaan pengaspalan bersandar dua alat berat. Alat itu digunakan pada malam hari untuk meratakan jalan setelah dilapis cairan aspal. Kepala Suku Dinas Bina Marga Jakarta Barat Riswan Effendi menyatakan, jalan yang terlihat baik bukan berarti sepenuhnya memenuhi kriteria standar jalan.
Untuk sebuah jalan dikatakan layak harus memenuhi setidaknya tiga hal, yaitu sudah lima tahun tidak diaspal, tidak berlubang sesuai dengan visi Dinas Bina Marga merealisasikan zero hole, dan bentuk geometrik sesuai standar kemiringan jalan.
“Pasti memang banyak yang bertanya-tanya kenapa jalanan bagus kok diaspal. Tapi jalanan yang tampak bagus bukan berarti konstruksi bawahnya bagus. Ketika konstruksi bawahnya tidak diganti akan membuat rawan bagi pengendara,” ungkap Riswan.
Riswan menambahkan, sebuah jalan agar tidak menciptakan genangan air harus memiliki kemiringan yang pas sekaligus tidak membahayakan pengguna jalan. Sisi jalan harus dibuat bisa langsung mengaliri air hujan ke saluran air.
“Standar miringnya harus ke arah selokan di bagian sisinya agar tidak menimbulkan genangan,” tukasnya. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved