Baru Seminggu Bekerja, Justru Ledakan yang Diterima

Nur Aivanni
26/10/2017 21:59
Baru Seminggu Bekerja, Justru Ledakan yang Diterima
(ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)

DENGAN berlinang air mata, Sari, 35, tiba di RSU Kabupaten Tangerang sekitar pukul 18.30 WIB. Kecemasan mulai menggelayut kembali ketika didapati informasi dari meja crisis center tepat di depan ruang Instalasi Gawat Darurat RSU Kabupaten Tangerang, tidak terdapat dua nama putrinya, Uniya dan Nilawati.

Sebelumnya, di RSIA BUN dan RS Mitra Husada pun kedua nama tersebut tidak ditemukan. Pilihan terakhir yang bisa dituju oleh Sari hanyalah RS Polri Kramat Jati. Uniya dan Nilawati adalah pekerja di gudang petasan milik PT Panca Buana Cahaya Sukses yang berada di Jalan Raya SMPN 1 Kosambi, Kabupaten Tangerang, yang meledak Kamis (26/10) pagi.

"Pas kejadian sampai sekarang enggak ada kabar," ungkap Sari dengan suara gemetar di depan IGD RSU Kabupaten Tangerang, Kamis (26/10). Kedua putrinya yang masih berumur 16 tahun dan 17 tahun tersebut ternyata baru bekerja selama satu minggu di gudang petasan tersebut.

Sari mengungkapkan kedua putrinya bekerja di gudang tersebut untuk membantu dirinya yang hanya ibu rumah tangga, dan suaminya yang kesehariannya mencari barang bekas. Alhasil, Uniya dan Nilawati pun terpaksa putus sekolah. "Mau bantu orangtua, (masalah) ekonomi," ucapnya.

Sari pun tidak pernah mengetahui bagaimana sebenarnya kondisi gudang tempat putrinya bekerja. Ia hanya tahu bahwa anaknya bekerja di pabrik kembang api. Sehari, kedua putrinya mendapat penghasilan Rp40 ribu. Mereka bekerja memasukkan kembang api ke plastik mulai pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB. "Ngepak (kembang api). Masuk-masukin ke plastik," katanya.

Sebelum meninggalkan RSU Kabupaten Tangerang menuju RS Polri Kramat Jati, Sari hanya bisa berharap kedua putrinya bisa ditemukan dan dalam kondisi yang baik.

Nasib yang sama pun dialami Siti Fatimah (15) yang kini tengah menjalani perawatan di ruang ICU di RSU Kabupaten Tangerang. Tak disangka, baru menjajaki bagaimana mencari nafkah selama seminggu, dia harus mengalami luka bakar akibat ledakan gudang petasan tersebut.

"(Kondisinya) Parah, cukup mengkhawatirkan. Dari ujung kaki sampai ujung rambutnya terbakar, mukanya juga, kulitnya terkelupas," ungkap sang kakak Lili Aliani, 29.

Ia mengaku belum ada dari pihak pabrik yang menemui keluarganya. "Bosnya saja kita belum ada yang tahu, baru ada dia nyuruh siapa ini buat ngurusin rumah sakit," akunya.

Ia berharap pihak pabrik mau bertanggung jawab atas dampak dari ledakan gudang petasan tersebut. "Sampai sembuhlah ya," ucapnya.

Fatimah dirujuk ke RSU Kabupaten Tangerang dari RSIA BUN sekitar pukul 12.00 WIB. Lili tak tega melihat kondisi yang menimpa adiknya tersebut. "Fatimah tadi sudah mau keluar pas kebakaran, terus kakinya tersangkut di meja, sampai jatuh, keinjek-injek," ceritanya.

Bekerja di gudang petasan yang tidak jauh dari rumah tersebut, diakui Lili, adalah kemauan dari Fatimah meskipun ia telah melarangnya. Alasannya, Fatimah yang seharusnya duduk di bangku SMP ingin membantu finansial kedua orangtuanya.

Dan kebetulan teman-temannya pun bekerja di sana. "Ngeliat teman-temannya kali ya pada masuk kerja di situ, jadi ingin juga dia, ngikut gitu," ujarnya.

Lili pun tidak pernah tahu bagaimana kondisi gudang petasan tersebut. Pasalnya, gudang tersebut dalam kondisi digembok. Ia menyebut kondisi pabrik hanya diketahui oleh orang-orang yang bekerja di sana.

Ia pun tidak menyangka Fatimah yang kesehariannya bertugas memasukkan kembang api ke dalam plastik tersebut harus mengalami luka bakar yang cukup parah. "Tadi sudah nge-drop, gemetaran, panas kata dia... panas," ucapnya lirih. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya