Tidak Layak Konsumsi, Air Kali Bekasi masih Diandalkan PDAM

Gana Buana
30/9/2017 18:39
Tidak Layak Konsumsi, Air Kali Bekasi masih Diandalkan PDAM
(ANTARA)

DINAS Lingkungan Hidup (LH) Kota Bekasi telah menyatakan air Kali Bekasi sudah tidak layak lagi dikonsumsi manusia. Namun, air yang tak masuk klasifikasi air layak konsumsi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air masih saja digunakan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat.

Pejabat sementara (Pjs) Direktur Umum PDAM Tirta Patriot, Cecep Ahmadi, menyampaikan, dalam kondisi normal sodetan dari aliran Kali Bekasi masih dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan air baku para pelanggannya dan PDAM Tirta Bhagasasi. Namun, kebutuhan akan air ini dicampur dari sodetan yang berasal dari air Kali Malang.

"Kita campur dengan air saluran Tarum Barat/Kali Malang, perbandingannya 1:4," ujar Cecep, di Bekasi, Sabtu (30/9).

Ia menjelaskan, kebutuhan air bebas limbah mencapai lima kubik per detik. Sodetan dari air Kali Malang maksimal hanya boleh diambil sebanyak satu kubik perdetik. Empat kubik sisanya disuplai dari Kali Bekasi, kualitas air jelas berbeda jika dibandingkan dengan air dari Kali Malang.

Sebanyak 5 kubik kebutuhan air bebas limbah di antaranya untuk produksi air bersih di PDAM Tirta Patriot sebanyak 1 kubik, air curah untuk PDAM Tirta Bhagasasi 1 kubik, serta kebutuhan irigasi mencapai 3 kubik.

"Kalau Kali Bekasi tercemar berat, otomatis mengganggu produksi air bersih, dampaknya pelayanan air kepada masyarakat," katanya.

Menurut dia, Kali Bekasi sudah sering tercemar limbah berbahaya, yang memaksa produksi air bersih di PDAM terhenti. Terakhir, pada pekan lalu air Kali Bekasi menghitam selama tiga hari.

Pihaknya tak bisa terlalu banyak berharap pada aliran Kali Malang. Sebab, batas aliran Kali Malang yang boleh diambil hanya sampai Bendung Bekasi. Selebihnya, itu masuk wilayah DKI Jakarta.

Sedangkan, PDAM belum mampu menyodet dari aliran Kali Malang sebelum Bendung Bekasi. Sebab, anggaran membangun jaringan di bawahnya tidak mampu ditutupi oleh APBD pemerintah setempat.

"Kita belum punya jaringan, yang dipakai saat ini merupakan jaringan kecil yang disodet dari punya Provinsi DKI Jakarta. Kalau mau bikin biayanya lebih dari Rp1 triliun. Itu kita belum mampu," kata dia.

Kepala Dinas LH Kota Bekasi, Jumhana Luthfi, menjelaskan, seharusnya kualitas air kali untuk konsumsi manusia harus memiliki peringkat pertama. Aliran kali yang masuk peringkat pertama hanya aliran Kali Malang.

Awalnya, aliran Kali Bekasi masih masuk peringkat keempat. Namun, peringkat tersebut hanya masuk untuk kualitas air minum peternakan dan pengairan di pertanian.

"Paling rendah kualitas air kali yang digunakan untuk air minum haruslah peringkat dua, selebihnya untuk peternakan dan pertanian," jelas dia.

Adapun, faktor pemicu ketidaklayakan air Kali Bekasi adalah limbah rumah tangga serta kontaminasi limbah berbahaya dari sejumlah perusahaan di sepanjang bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Bekasi, yakni Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas.

Selain itu, kandungan oksigen yang harusnya ada dalam air minimal punya baku mutu sebesar 4 Mg/L. Namun ketika hasil uji laboratorium keluar kandungan oksigen yang ada di Kali Bekasi hanya sebesar 0,584 Mg/L. Bahkan, kandungan klorin atau zat kimia yang mengadung racun mencapai 3,10 Mg/L, padahal maksimalnya 0,03 Mg/L.

"Kita akan lakukan kajian ulang untuk standar baku mutu air di PDAM dalam waktu dekat," ucap Lutfi.

Saat ini, kata Luthfi, ada sekitar 18 perusahaan yang tengah diduga kerap mencemari Kali Bekasi di wilayah Kota Bekasi. Terakhir, dua perusahaan tertangkap tangan menjadi pelaku pencemaran. Dua perusahaan tersebut adalah PT Mikie Oleo Nabati Industri yang merupakan perusahan produsen minyak sayur dan PT Jeil Indonesia adalah perusahaan yang berkerak dibidang konveksi.

Dua perusahaan tersebut kini sudah resmi disegel. Pemerintah meminta agar keduanya melengkapi IPAL sesuai standar. Bila persyaratan tersebut sudah dilakukan maka barulah kedua perusahaan tersebut boleh beroperasi kembali. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya