Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENERAPAN aspal berbahan baku plastik yang sudah diterapkan di Bali dan Kota Bekasi diklaim aman dari bahaya Polutan bila digunakan. Bahkan ketahanan material perekat aspal tersebut lebih kuat sekitar 40 persen dari aspal biasa.
Meteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) Basuki Hadimuljono menyampaikan, penggunaan plastik dalam campuran aspal masih aman bila proses pemanasan plastik tersebut di bawah 285 derajat. Limbah plastik yang tak bernilai itu justru menjadi bermanfaat bagi pembangunan nasional.
"Sudah kita uji, proses pemanasan pun kan hanya sekitar 175-180 derajat, jadi masih jauh dari bahaya degradasi menjadi polutan," ujar Basuki ketika meninjau pengaspalan di Jalan Sultan Agung, Kota Bekasi, kemarin.
Basuki menjelaskan, program aspal berbahan baku plastik ini punya keuntungan ekonomi skala besar yang bisa menghidupi rakyat menengah ke bawah. Karena itu program ini pun akan bekerjasama dengan Kementerian Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) guna menyuplai partikel plastik yang digunakan.
Pihaknya pun bakal segera menghibahkan mesin pencacah plastik pada pengusaha dan pemulung agar segera bisa menggunakan mesin untuk membuat bahan baku aspal. Sebab pengaspalan satu kilometer jalan butuk sekiar tiga ton plastik kresek.
"Bayangkan, bila satu kilo plastik diharga Rp4.000-Rp5.000, satu ton itu sudah berapa. Tentu harganya akan meningkat sesuai dengan kebutuhan," kata Basuki.
Rencanannya, uji coba aspal berbahan baku plastik ini pun akan dilakukan di sejumlah daerah. Diantaranya di Medan, Surabaya dan jalan Tol Jakarta-Merak.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyampaikan, saat ini dalam skala nasional produksi limbah tercatat sekitar 50 ton dalam setahun. Dengan adanya program aspal berbahan baku plastik diharapkan bisa mengurangi limbah plastik tersebut.
Apalagi dari segi biaya pengerjaan diprediksi bakal mengurangi sekitar 10 persen biaya pengerjaan dengan aspal biasa. "Dari segi pariwisata dan lingkungan ini pun bisa berkontribusi mengurangi sampah plastik," kata Luhut.
Selama ini, kata dia, sampah plastik tidak memiliki nilai ekonomis. Beda halnya dengan sampah botol plastik atau kaleng. Karena itu, butuh ratusan tahun agar sampah tersebut terurai.
"Jadi semua bisa manfaatin sampah plastik ini. Tujuannya itu buat lestarian lingkungan sebab sampah plastik ini engga ada nilainya," ungkapnya.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Jalan dan Jembatan Kemen PU-Pera
Deded Permadi Sjamsudin menyampaikan, saat ini Kementerian PU-Pera sedang menyiapkan teknologi campuran aspal berbahan baku plastik tersebut. Kni dilakukan agar industri menegah di bawah Kementerian UMKM atau Kementerian Lingkungan Hidup (LH) bisa menyuplai serbuk plastiknya.
"Campuran plastik yang ditambahkan itu kurang lebih 6%. Campuran itu ada agregat ada aspal plastik ini," singkat dia. (OL-7)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved