Naluri Ibu Membuatnya Bertahan

13/9/2017 06:50
Naluri Ibu Membuatnya Bertahan
(MI/DEDE SUSIANTI)

JAM menunjuk pukul 20.00 WIB, suasana Kampung Cisarua, Desa Banyuasih, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, sudah sunyi. Warga di sana sudah beranjak ke peraduan.

Bunyi jangkrik jelas terdengar bersahut-sahutan. Di salah satu rumah di sana, seorang pria sembari berjongkok mengoceh tidak jelas alasannya. Padahal, tidak ada lawan bicara. Suaranya cukup keras terdengar dari kejauhan. Dia bernama Opik. Saban hari, tingkah pria berusia 30 tahun itu memang demikian.

Opik merupakan anak pertama pasangan Mariam dan Ruyani. Opik mengalami gangguan jiwa sejak akil balig. Mariam ialah sosok ibu luar biasa di balik kehidupan Opik dan empat anak lainnya yang mengalami gangguan jiwa.

Meski secara fisik sudah terlihat renta, Mariam yang menginjak usia 52 tahun sangat kuat dan sabar. Mariam harus bertahan hidup dan merawat Opik sendiri karena Ruyani, sang suami, belum lama ini meninggal dunia.

Betapa kuat dan supernya Mariam, di rumah kecilnya di RT 01/02, Kampung Cisarua, Desa Banyuasih, perkampungan tanpa jaringan signyal itu, dia ternyata juga hidup dan menanggung beban merawat empat anak yang lain yang juga mengalami gangguan jiwa.

Selain Opik, empat anaknya yakni Maryati, 13, Mas’ud, 11, Amdah, 10, dan Kosasih, 9, juga mengalami gangguan jiwa.

Sebenarnya anak Maryam dan Ruyani berjumlah enam orang. Namun, adiknya Opik sudah menikah dan tidak tinggal di situ. Hanya dia satu-satunya yang sehat.

Setiap hari Mariam dibuat repot, khususnya oleh Opik yang memang kalau sedang kumat selalu berteriak minta rokok. Padahal, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia sudah kerepotan. Mariam bekerja serabutan menjadi kuli kebun dengan penghasilan Rp20 ribu per hari.

Mariam menahan kesedihan saat menceritakan anak-anaknya saat dikunjungi Media Indonesia, kemarin. Ia tak kuasa menahan air mata yang tumpah meski berupaya bersikap tegar. Sesekali dia terdiam. Awalnya, semua anaknya terlahir normal. Gangguan jiwa mulai terjadi saat anak-anaknya beranjak dewasa,

“Semuanya pas lahir sehat. Opik rajin ka leuweung (ke hutan) kerja kuli bawa pisang. Tapi pas baleg (balig/besar) kayak Kosasih itu mulai berubah,” tuturnya.

Semua anaknya yang sakit itu dia rawat sendiri. Mereka tidak pernah dibawa ke rumah sakit karena keterbatasan ekonomi. Sejak suaminya meninggal, Mariam menanggung beban sendiri. Bahkan untuk Opik, dia harus memandikan. “Pikiran. Karunya saya ka anak. Kumaha masa depannya,” lirihnya.

Mariam mengaku tidak tahu persis apa yang menjadi penyebab semua anaknya bisa begitu. Menurutnya, tidak ada keturunan atau dari anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa.

Kini beban Mariam sedikit berkurang. Dia mempunyai harapan anak-anaknya bisa kembali pulih dan bisa menjalani hidup normal. Sejak kedatangan sejumlah wartawan dan memberitakannya di media, perhatian dari berbagai pihak mulai bermunculan, termasuk dari pihak pemerintah Kabupaten Bogor. (Dede Susianti/J-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya