Rebranding Fortune Cookie: Dari Tradisi Jepang ke Simbol Aktivisme Kulit Hitam

Thalatie K Yani
27/4/2026 12:45
Rebranding Fortune Cookie: Dari Tradisi Jepang ke Simbol Aktivisme Kulit Hitam
Ilustrasi(freepik)

BAGI Kurt Evans, malam Jumat di masa kecilnya selalu identik dengan kotak karton berisi shrimp lo mein dan General Tso’s chicken. Ritual tersebut selalu ditutup dengan memecahkan fortune cookie (kue keberuntungan) untuk membaca ramalan di dalamnya.

Kini, Evans tidak lagi sekadar menjadi penikmat. Ia adalah pemilik Black Dragon, sebuah gerai Chinese takeout di Southwest Philadelphia yang membawa misi besar. Di balik fasad bangunan berwarna hitam dengan logo merah-emas, Evans menyajikan apa yang ia sebut sebagai "Makanan Tiongkok-Amerika Kulit Hitam."

Menu di sini unik, egg roll diisi dengan sayur kol (collard greens), lo mein diberi topping gumbo, hingga menu ayam pedas manis yang dinamai General Roscoe’s Chicken, merujuk pada Roscoe Robinson Jr., jenderal bintang empat Kulit Hitam pertama di Angkatan Darat AS.

Kue Keberuntungan yang "Bicara"

Salah satu daya tarik utama Black Dragon adalah pesan di dalam kue keberuntungannya. Jika biasanya berisi ramalan generik, Evans menulis sendiri pesan-pesan yang relevan dengan budaya masyarakat Kulit Hitam.

Salah satu pesan favoritnya adalah kutipan klasik dari ibunya: "I brought you into this world, and I could take you out" (Aku yang melahirkanmu ke dunia, aku juga yang bisa mengeluarkanmu).

"Saya ingin makanan dan orang-orang yang saya layani memiliki relevansi budaya," ujar Evans, yang juga merupakan peraih penghargaan Champion of Change dari World’s 50 Best Restaurants tahun 2021.

Melacak Akar Sejarah: Bukan dari Tiongkok

Meskipun identik dengan restoran Tiongkok di Amerika, fortune cookie sebenarnya membawa sejarah yang sering disalahpahami. Penelitian menunjukkan bahwa kue renyah ini kemungkinan besar berasal dari Jepang, bukan Tiongkok.

Penulis Jepang, Yasuko Nakamachi, menemukan bukti berupa kudapan Tahun Baru dari zaman Edo yang disebut tsujiura gashi, kue beras berisi ramalan yang dibuat di Kanazawa. Di Amerika, kue ini mulai diproduksi massal oleh pengusaha Jepang di San Francisco sebelum akhirnya diambil alih oleh pabrik-pabrik Tiongkok setelah peristiwa pengasingan warga Jepang-Amerika pada Perang Dunia II.

Alat Komunikasi dan Solidaritas

Di tangan generasi baru seperti Evans atau Alicia Wong dari Oakland Fortune Factory, kue ini bertransformasi menjadi alat advokasi. Pada tahun 2020, di tengah protes Black Lives Matter, Wong menciptakan "kue solidaritas" berisi kutipan aktivis hak sipil.

"Kue keberuntungan bisa menjadi alat untuk merayakan budaya sekaligus menyatukan orang-orang," kata Alex Issvoran, suami Alicia.

Bagi Evans, kue ini adalah jembatan komunikasi. Ia berharap saat pelanggan membuka kue tersebut bersama keluarga, mereka akan berbagi pengetahuan dan memulai percakapan penting, persis seperti yang ia lakukan bersama ibunya setiap Jumat malam.

"Orang-orang selalu menantikan pesan kecil di dalam kue itu. Bagiku, kue keberuntungan adalah cara luar biasa untuk melestarikan budaya," pungkas Evans. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya