Tren Kopitiam Meledak di Indonesia, Mengapa Konsep Nostalgia Kini Jadi Rebutan Pebisnis?

Thalatie K Yani
26/4/2026 13:06
Tren Kopitiam Meledak di Indonesia, Mengapa Konsep Nostalgia Kini Jadi Rebutan Pebisnis?
Ilustrasi(freepik)

INDUSTRI kedai kopi di Indonesia terus menunjukkan taringnya. Hingga November 2025, tercatat lebih dari 461 ribu gerai kopi, mulai dari warung tradisional hingga kafe modern, beroperasi di seluruh penjuru negeri. Namun, di tengah kepungan gaya modern, tren kopitiam justru muncul sebagai sub-segmen yang paling mencuri perhatian, terutama di kota-kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, Surabaya, hingga Medan.

Kopitiam, yang berakar dari budaya Asia Tenggara sejak awal abad ke-20 di Malaysia dan Singapura, kini kembali relevan bagi konsumen modern. Berbeda dengan coffee shop kekinian yang menonjolkan estetika minimalis, kopitiam menawarkan pengalaman nostalgia melalui menu ikonik seperti kopi tarik, teh tarik, dan roti bakar srikaya (kaya toast).

Mengapa Kopitiam Begitu Diminati?

Doddy Samsura, Coffee Enthusiast sekaligus Runner-up Asian FBC Singapore 2012, menilai fenomena ini dipicu oleh perubahan preferensi konsumen yang mulai jenuh dengan menu yang terlalu kompleks.

"Pertumbuhan kopitiam di Indonesia tidak lepas dari perubahan preferensi konsumen yang kini cenderung mencari minuman yang lebih approachable, tidak terlalu kompleks, tetapi tetap kaya rasa dan nyaman dinikmati kapan saja. Selain itu, faktor familiarity juga berperan besar, karena profil rasa kopitiam relatif dekat dengan selera masyarakat lokal," ujar Doddy.

Ia menambahkan jika specialty coffee mengagungkan asal-usul biji kopi (origin) dan teknik seduh, kopitiam justru menitikberatkan pada seni pencampuran (blending) dan konsistensi rasa agar bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat.

Tantangan Autentisitas dan Konsistensi

Meski menjamur, tantangan terbesar bagi para pelaku bisnis kopitiam adalah menjaga keaslian rasa. Banyak gerai yang mencoba meniru konsep ini, namun gagal menghadirkan jiwa dari kopitiam itu sendiri.

Dodi Afandi, Head of Marketing PT Etika Beverages Indonesia, menyoroti adanya kesenjangan (gap) dalam hal autentisitas. "Tren kopitiam di Indonesia berkembang sangat cepat, namun kami melihat masih ada gap yang cukup besar dalam hal autentisitas rasa. Banyak menu yang terlihat serupa, tetapi belum menghadirkan pengalaman yang benar-benar khas seperti yang ditemukan di Malaysia," jelasnya.

Menurut Dodi, kunci untuk memenangkan pasar adalah konsistensi pada elemen krusial seperti tekstur yang creamy dan keseimbangan rasa manis-gurih. Dalam hal ini, penggunaan bahan baku berkualitas seperti Dairy Champ menjadi faktor penentu untuk menciptakan signature taste yang stabil, baik pada sajian panas maupun dingin.

Masa Depan Bisnis "Heritage"

Selain faktor rasa, aspek visual yang memikat di media sosial kini menjadi kebutuhan. Minuman dengan tampilan tekstur yang kental dan menggugah selera memberikan kekuatan narasi (storytelling) yang kuat bagi sebuah brand.

Ke depan, tren kopitiam diprediksi akan terus meroket seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap konsep yang menggabungkan warisan budaya (heritage) dengan gaya hidup modern. Dengan karakter yang kuat dan posisi unik di antara kafe tradisional dan modern, kopitiam bukan sekadar tren sesaat, melainkan segmen bisnis yang sangat menjanjikan di masa depan. (Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya