Animasi Sarana Ajarkan Anak Nilai Moral dalam Keluarga

Rahmatul Fajri
29/4/2026 17:06
Animasi Sarana Ajarkan Anak Nilai Moral dalam Keluarga
Ilustrasi(Dok Istimewa)

TONTONAN anak tidak selalu menghadirkan cerita besar untuk bisa terasa dekat. Justru, situasi-situasi sederhana dalam keseharian menjadi momen paling mudah dikenali, baik oleh anak maupun orang tua. Pendekatan inilah yang terlihat dalam berbagai cerita Nussa, salah satu konten animasi anak lokal yang cukup dikenal di platform digital. 

Melalui keseharian Nussa dan Rarra, cerita-cerita yang diangkat kerap berangkat dari hal kecil, tapi berkembang menjadi refleksi tentang hubungan dalam keluarga. 

Berikut beberapa momen yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari:

  1. Anak yang Merasa Orang Tua tidak Menepati Janji 

    Dalam cerita “Janji Manis”, Rarra merasa dijanjikan hadiah oleh Abba yang tengah sibuk  bekerja.  Di sini, muncul kisah sederhana, tapi berkembang menjadi pembahasan tentang menepati janji, serta bagaimana anak dan orang tua saling memahami. Situasi seperti ini sering  terjadi, ketika kesibukan membuat komunikasi dalam keluarga menjadi tidak utuh. 

  2. Orang Tua yang Meminta Maaf kepada Anak 

    Masih dalam ceritayang sama, terdapat momen yang jarang diangkat dalam cerita anak. Di akhir cerita, Abba mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada Rarra. Umumnya, anak yang diharapkan untuk mengakui kesalahan. Namun melalui momen ini, ditunjukkan bahwa orang tua pun dapat belajar untuk mengakui kekeliruan dan memperbaiki hubungan.

  3. Kehadiran Orang Tua dalam Proses Belajar Anak 

    Momen lain yang terasa dekat dalam cerita “Kostum Bulan” adalah ketika Nussa belajar bersama orang tuanya tentang fase bulan. Proses belajar tersebut membahas sisi sains yang sederhana, sekaligus mengajak untuk memahami dan menumbuhkan rasa kagum terhadap ciptaan Allah. 

    Cerita ini memperlihatkan bagaimana kehadiran orang tua dalam proses belajar dapat membuat anak merasa lebih antusias dan nyaman dalam mengeksplorasi rasa ingin tahunya. 

Menurut Herry Budiazhari Salim, Group President dan CEO Visinema Studios, kekuatan cerita seperti ini justru terletak pada kedekatannya dengan pengalaman sehari-hari.  

“Cerita dalam Nussa berangkat dari situasi yang sangat dekat dengan kehidupan keluarga. Hal-hal kecil seperti rasa kesal, kecewa, atau sayang itu dialami hampir semua orang. Justru dari situ, cerita jadi terasa lebih jujur dan mudah terhubung dengan penonton,” jelas Herry. 

Cerita yang dekat dengan keseharian membuat anak lebih mudah memahami pesan yang disampaikan, sekaligus membuka ruang percakapan antara anak dan orang tua setelah menonton bersama. 

Dalam konteks ini, tontonan tidak lagi berhenti sebagai hiburan, tetapi menjadi bagian dari interaksi yang lebih luas dalam keluarga,membantu anak memahami emosi, serta memperkuat hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya