Pertolongan Pertama Anak Tersedak: Kenali Tanda Bahaya dan Teknik Penyelamatan Nyawa

Nadhira Izzati A
13/4/2026 21:15
Pertolongan Pertama Anak Tersedak: Kenali Tanda Bahaya dan Teknik Penyelamatan Nyawa
Dr. Tuti Rahayu dan Dr. Yogi Prawira saat mempraktikkan teknik dasar penanganan kegawatdaruratan pada anak, Senin (13/04).(MI/Nadhira Izzati A)

KESIGAPAN dalam memberikan pertolongan pertama menjadi faktor penentu antara hidup dan mati, terutama saat menghadapi kondisi gawat darurat pada anak-anak. 

Dalam acara Media Briefing “Langkah Cepat dan Tepat dalam Penanganan Gawat Darurat Anak” yang diadakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di kawasan Sudirman, DKI Jakarta (13/04), para pakar kesehatan membagikan panduan krusial bagi masyarakat awam.

Para dokter menekankan bahwa teknik Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau Resusitasi Jantung Paru (RJP) memiliki perbedaan mendasar berdasarkan usia korban. Memahami teknik ini bukan sekadar keahlian medis, melainkan kewajiban bagi setiap orang tua, pengasuh, dan guru.

Mengapa Teknik Anak Berbeda dengan Dewasa?

Penanganan kegawatdaruratan medis pada anak memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan dewasa karena perbedaan anatomi dan respon tubuh. Jika pada dewasa sering digunakan urutan C-A-B (Circulation, Airway, Breathing), pada anak-anak penekanannya seringkali tetap pada urutan A-B-C (Airway, Breathing, Circulation).

"Kekurangan oksigen yang cukup lama pada anak, akan merusak otaknya," ujar Dr. Tuty Rahayu dari Unit Kerja Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI JAYA.

Mengenali Tanda Tersedak

Langkah awal yang paling krusial adalah menilai apakah sumbatan jalan napas bersifat total atau sebagian.

Jika anak masih bisa menangis atau batuk dengan keras, artinya jalan napas belum tertutup sepenuhnya. Posisikan kepala lebih tinggi, buat anak nyaman, dan segera bawa ke rumah sakit.

Jika batuk tidak efektif, anak mengeluarkan suara merintih, atau muka mulai membiru, segera lakukan tindakan bantuan darurat.

  1. Bayi di Bawah 1 Tahun (Back Blow & Chest Thrust)
    Untuk bayi, hindari manuver yang menekan perut secara keras. Gunakan bantuan gravitasi:
    -Back Blow: Pegang bayi dengan posisi tengkurap di lengan, posisikan kepala lebih rendah dari badan. Tumpu rahang bayi dengan tangan (jangan mencekik leher). Hentakkan pangkal telapak tangan di antara dua tulang belikat sebanyak 5 kali.

    - Chest Thrust: Jika benda belum keluar, balikkan bayi. Lakukan penekanan di dada menggunakan dua ibu jari sebanyak 5 kali.

    "Tujuan kita meningkatkan tekanan di rongga dada secara tiba-tiba, sehingga benda itu akan kedorong keluar," ungkap Dr. Yogi Prawira, Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI.

  2. Anak di Atas 1 Tahun (Heimlich Maneuver)
    Pada anak yang lebih besar dan sudah bisa berdiri, lakukan langkah berikut:

    - Posisikan diri di belakang anak (sejajar dengan tinggi anak).
    - Lingkarkan tangan di perut anak, di antara pusar dan ujung tulang dada.
    - Hentakkan tangan ke arah dalam dan ke atas secara kuat secara berulang hingga benda asing keluar.

Prosedur RJP Jika Anak Tidak Sadarkan Diri

Jika tindakan penanganan tersedak tidak berhasil dan anak kehilangan kesadaran, segera beralih ke Resusitasi Jantung Paru (RJP):

  • Panggil Bantuan: Jangan mencoba menangani sendiri. Segera instruksikan seseorang untuk menghubungi ambulans.
  • Airway & Breathing: Buka jalan napas dengan mengangkat dagu (head tilt-chin lift). Jika tidak ada napas, berikan 5 kali napas buatan awal. Napas buatan efektif jika terlihat dada anak naik.
  • Circulation (Kompresi Dada): Letakkan anak di permukaan yang keras. Gunakan rasio 15 kali kompresi diikuti 2 kali napas buatan (untuk 2 penolong) atau 30:2 (untuk penolong tunggal). 

Tips: saat melakukan Kompresi Dada, gunakan irama stabil mengikuti tempo lagu "Baby Shark" untuk menjaga konsistensi tekanan.

Banyak orang ragu bertindak karena takut menyakiti anak atau mematahkan tulang rusuk. Namun, dalam kondisi gawat darurat, nyawa adalah prioritas utama.

"Yang kita kerjakan ini adalah life saving. Rasa sakit, atau badannya biru-biru kita kesampingkan dulu,” tegas Dr. Yogi. “Karena begitu dia tersumbat, oksigennya nggak masuk, abis itu otak mati."

Apa yang Dilakukan setelah Anak Pulih?

Setelah benda asing keluar dan anak kembali bernapas normal, orang tua diingatkan untuk tidak terburu-buru memberi minum guna menghindari risiko tersedak kembali.

Evaluasi medis di Unit Gawat Darurat (UGD) tetap menjadi langkah final yang wajib dilakukan. Hal ini penting untuk memastikan tidak adanya cedera internal atau sisa sumbatan yang mungkin tertinggal di saluran napas bagian bawah, meski anak terlihat sudah tenang. (H-2)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya