Lagi, Pengacara Lingkungan Dibunuh di Filipina

Basuki Eka Purnama
17/2/2017 20:38
Lagi, Pengacara Lingkungan Dibunuh di Filipina
(Ist)

SEORANG pengacara asal Filipina yang mengkhususkan diri menyelidiki kejahatan terhadap lingkungan tewas setelah diadang dan ditembak sekelompok orang tidak dikenal. Hal itu diungkapkan Kepolisian Filipina, Jumat (17/2).

Pembunuhan Mia Manuelita Mascarinas-Green yang terjadi pada Rabu (15/2) itu meningkatkan kekhawatiran bahwa Filipina merupakan tempat paling berbahaya di dunia bagi pejuang lingkungan. Selama 15 tahun terakhir, sebanyak lebih dari 100 pejuang lingkungan tewas dibunuh.

Mascarina-Green tewas ketika empat pria bersenjata yang menaiki sepeda motor mengepung mobil yang ditumpanginya bersama anak-anak dan pembantunya di dekat kediamannya di Pulau Bohol.

Mascarinas-Green dinyatakan tewas di sebuah rumah sakit namun anak-anaknya dipastikan tidak terluka.

"Korban adalah seorang pengacara lingkungan yang terkenal. Penyidik kini menyelidiki apakah aksi penyerangan itu terkait dengan kasus yang tengah ditanganinya," ujar juru bicara polisi setempat Inspektur Senior Reslin Abella.

"Kami juga telah memiliki identitas dari setidaknya salah satu pelaku penyerangan itu dan kini tengah memburunya," imbuh Abella tanpa menyebutkan nama pelaku itu.

Kematian Mascarina-Green membuat jumlah pejuang lingkungan yang tewas dibunuh di Filipina selama 15 tahun terakhir berjumlah 112 orang. Hal itu diungkapkan lembaga pencinta lingkungan Filipina Kalikasan.

Jumlah itu mencakup 12 pejuang lingkungan yang tewas sejak Presiden Filipian Rodrigo Duterte menjabat. "Mayoritas kasus ini tidak terselesaikan karena pemerintah terus mengabaikan ancaman bagi para pejuang lingkungan," ungkap Clemente Bautista, koordinator nasional Kalikasan.

Direktur Eksekutid Greenpeace Asia Tenggara Yeb Sano menambahkan pembunuhan terhadap para pejuang lingkungan itu menjadi bukti budaya impunitas di Filipina ketika para perusak lingkungan memanfaatkan politikus korup dan sistem kehakiman untuk bebas melakukan pembunuhan.

"Mereka yang merusak lingkungan menggunakan cara-cara keji untuk menghentikan komunitas dan orang yang berani melawan mereka dalam upaya melindungi lingkungan," seru Sano. (AFP/X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya