Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
IRAN dilaporkan mengajukan proposal untuk membuka kembali Selat Hormuz serta mengakhiri konflik yang sedang berlangsung, dengan menunda pembahasan isu nuklir ke tahap berikutnya. Usulan tersebut muncul di tengah kebuntuan diplomatik antara Teheran dan Washington.
Menurut laporan media Axios, proposal itu disampaikan kepada Amerika Serikat (AS) melalui sejumlah mediator, termasuk Pakistan.
Rencana tersebut disebut bertujuan menghindari perdebatan alot terkait pengayaan uranium demi mempercepat tercapainya kesepakatan yang lebih fokus pada pencabutan blokade dan pemulihan jalur pelayaran.
Dalam skema yang diusulkan, gencatan senjata akan diperpanjang dalam jangka panjang atau bahkan dibuat permanen.
Sementara itu, pembicaraan mengenai program nuklir Iran baru akan dimulai setelah Selat Hormuz kembali dibuka dan berbagai pembatasan dicabut.
Seorang pejabat Amerika Serikat dan sejumlah sumber yang mengetahui proses tersebut menyebutkan bahwa Gedung Putih telah menerima usulan itu, namun belum memberikan sinyal apakah akan menindaklanjutinya.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan menggelar pertemuan di Ruang Situasi pada Senin bersama pejabat tinggi keamanan nasional untuk membahas situasi tersebut dan menentukan langkah selanjutnya.
Trump sendiri menyatakan lebih memilih mempertahankan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran guna meningkatkan tekanan terhadap Teheran.
"Ketika Anda memiliki cadangan minyak yang sangat besar jika jalur ini ditutup jalur itu akan meledak dari dalam," ujarnya dilansir Anadolu, Senin (27/4).
Dia menambahkan bahwa Iran mungkin hanya memiliki sekitar tiga hari sebelum menghadapi tekanan domestik yang signifikan.
Upaya diplomasi terus meningkat dalam beberapa hari terakhir. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah melakukan serangkaian pertemuan di Islamabad, Pakistan, serta Muscat, Oman, yang membahas situasi di Selat Hormuz.
Ia kemudian melanjutkan perjalanan ke Saint Petersburg, Rusia, untuk mengadakan pembicaraan tingkat tinggi dengan Presiden Vladimir Putin dan pejabat senior lainnya.
Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, menyebut proses tersebut sebagai situasi yang kompleks.
"Ini adalah diskusi diplomatik yang sensitif, Amerika Serikat memegang kendali," sebutnya.
Sebelumnya, Iran dan Amerika Serikat sempat menggelar pembicaraan di Islamabad pada 11-12 April, namun belum mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Negosiasi tersebut dilakukan setelah Pakistan memediasi gencatan senjata selama dua minggu yang dimulai pada 8 April dan kemudian diperpanjang oleh Trump.
Meski upaya untuk melanjutkan perundingan masih berlangsung, sejumlah isu utama masih menjadi hambatan, termasuk status Selat Hormuz, blokade AS terhadap pelabuhan Iran, serta hak Iran dalam memperkaya uranium.
Situasi ini menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan damai masih menghadapi tantangan besar. (Fer/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved