Sejarah Kerajaan Babilonia: Masa Kejayaan, Dinasti, dan Keruntuhan

Media Indonesia
24/4/2026 16:46
Sejarah Kerajaan Babilonia: Masa Kejayaan, Dinasti, dan Keruntuhan
Ilustrasi.(Freepik)

KERAJAAN Babilonia merupakan salah satu peradaban paling berpengaruh dalam sejarah manusia yang terletak di wilayah Mesopotamia (sekarang Irak). Berdiri di antara Sungai Eufrat dan Tigris, Babilonia bertransformasi dari kota kecil menjadi pusat politik, budaya, dan ilmu pengetahuan yang mendominasi dunia kuno selama berabad-abad.

Berdirinya Kerajaan Babilonia

Babilonia awalnya hanyalah kota administratif kecil di bawah kekuasaan Kekaisaran Akkadia. Kebangkitannya dimulai sekitar tahun 1894 SM ketika seorang pemimpin suku Amori bernama Sumu-abum mendirikan dinasti pertama. Namun, Babilonia baru benar-benar menjadi kekuatan regional yang diperhitungkan di bawah kepemimpinan raja keenamnya, Hammurabi.

Dinasti dan Raja-Raja yang Berkuasa

Sejarah Babilonia secara garis besar dibagi menjadi dua periode utama: Kekaisaran Babilonia Lama dan Kekaisaran Babilonia Baru (Neo-Babilonia).

1. Era Babilonia Lama (1894-1595 SM)

Tokoh sentral pada era ini ialah Raja Hammurabi. Ia berhasil menyatukan seluruh wilayah Mesopotamia dan menjadikan Babilonia sebagai ibu kota kekaisaran yang luas. Setelah kematian Hammurabi, kekaisaran ini perlahan melemah dan akhirnya runtuh akibat serangan bangsa Het.

2. Era Neo-Babilonia (626-539 SM)

Setelah berabad-abad di bawah dominasi Asyur, Babilonia bangkit kembali melalui pemberontakan Nabopolassar. Puncak kejayaan era ini terjadi di bawah pemerintahan Nebukadnezar II, yang membangun kembali kota dengan kemegahan luar biasa.

Baca juga : Sejarah Perang Persia vs Romawi Konflik Terlama dalam Peradaban Manusia

Raja Terkenal Pencapaian Utama
Hammurabi Penyusunan Kodeks Hammurabi (Hukum tertulis tertua).
Nabopolassar Memerdekakan Babilonia dari kekuasaan Asyur.
Nebukadnezar II Membangun Taman Gantung dan Gerbang Ishtar.

Peran Bersejarah dan Kontribusi Peradaban

Babilonia memberikan warisan yang masih dirasakan hingga saat ini dalam berbagai bidang:

  • Hukum: Codex Hammurabi memperkenalkan prinsip mata ganti mata yang menjadi dasar keadilan hukum formal.
  • Astronomi & Matematika: Bangsa Babilonia mengembangkan sistem bilangan seksagesimal (basis 60), yang menjadi alasan satu jam memiliki 60 menit dan lingkaran memiliki 360 derajat.
  • Arsitektur: Pembangunan Ziggurat (Menara Babel dalam literatur) dan Taman Gantung Babilonia yang diakui sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno.

Baca juga: Sejarah Lengkap Kerajaan Romawi Awal Berdiri, Daftar Raja, dan Kejatuhan

Keruntuhan Kerajaan Babilonia

Kemunduran Babilonia dipicu oleh beberapa faktor internal dan eksternal:

  1. Kelemahan Kepemimpinan: Setelah Nebukadnezar II wafat, terjadi perebutan kekuasaan dan ketidakstabilan politik di istana.
  2. Konflik Keagamaan: Raja terakhir, Nabonidus, memicu kemarahan rakyat dan pendeta karena mencoba mengganti dewa utama Marduk dengan dewa bulan Sin.
  3. Invasi Persia: Pada tahun 539 SM, Raja Koresh Agung dari Persia menyerang Babilonia. Kota ini jatuh dengan relatif mudah, menandai berakhirnya kedaulatan Babilonia sebagai kekaisaran independen.

Baca juga: Daftar Raja Persia Terlengkap Dari Kekaisaran Akhemeniyah hingga Republik Islam Iran

Kesimpulan

Kerajaan Babilonia bukan sekadar kekuatan militer, melainkan mercusuar peradaban yang meletakkan dasar bagi hukum modern, matematika, dan astronomi. Meskipun kekaisarannya telah runtuh ribuan tahun lalu, warisan intelektualnya tetap hidup dalam struktur masyarakat modern saat ini.

FAQ (Pertanyaan Umum)

1. Di mana lokasi Kerajaan Babilonia sekarang?
Wilayahnya kini berada di negara Irak, sekitar 85 kilometer di selatan Baghdad.

2. Apa peninggalan Babilonia yang paling terkenal?
Kodeks Hammurabi, Gerbang Ishtar, dan Taman Gantung Babilonia.

3. Siapa dewa utama bangsa Babilonia?
Dewa Marduk adalah dewa pelindung kota Babilonia yang paling dipuja.

Baca juga: Daftar Lengkap Kerajaan di Indonesia Dari Kutai hingga Kesultanan Terakhir



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya