Sugiono Ungkap Arah Baru Kerja Sama Pertahanan Indonesia-Prancis

Ferdian Ananda Majni
22/4/2026 14:06
Sugiono Ungkap Arah Baru Kerja Sama Pertahanan Indonesia-Prancis
Ilustrasi.(Freepik)

MENTERI Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menegaskan komitmen pemerintah Indonesia untuk memperkuat kemitraan strategis dengan Prancis. Fokus utama kerja sama ini terletak pada sektor pertahanan, khususnya dalam pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dibarengi dengan penguasaan teknologi secara mendalam.

Dalam konferensi pers di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (22/4), Sugiono menjelaskan bahwa hubungan pertahanan kedua negara kini memasuki babak baru yang tidak hanya berorientasi pada transaksi jual-beli.

"Kita memperoleh atau membeli alat-alat pertahanan yang cukup strategis dari Prancis. Ini juga memiliki turunan bahwa kita harus juga bisa meningkatkan penguasaan teknologi terhadap hal-hal tersebut," ujar Sugiono.

Melampaui Pengadaan: Transfer Teknologi dan SDM

Pernyataan tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Emmanuel Macron di Paris baru-baru ini. Sugiono menekankan bahwa pemerintah mendorong kolaborasi yang melampaui sekadar pengadaan fisik alutsista.

Menurutnya, aspek krusial dari kerja sama ini adalah transfer of technology (ToT). "Kerja sama di luar pengadaan. Kita tidak hanya sebatas membeli, tetapi juga melakukan transfer teknologi dan penguasaan teknologi dari barang-barang yang kita beli," imbuhnya.

Selain aspek teknis persenjataan, kerja sama bilateral ini juga menyasar pengembangan sumber daya manusia (SDM). Fokus utama akan diarahkan pada bidang:

  • Sains (Science)
  • Teknologi (Technology)
  • Teknik (Engineering)
  • Matematika (Mathematics) atau STEM

Langkah ini dinilai vital agar personel Indonesia memiliki kemampuan mumpuni dalam mengelola, merawat, dan mengembangkan teknologi pertahanan yang telah diakuisisi secara mandiri di masa depan.

Proses Panjang Alutsista dan Contoh Rafale

Menlu Sugiono juga mengingatkan publik bahwa pengadaan alutsista strategis memerlukan waktu yang panjang dan perencanaan matang. Ia mengutip pesan Presiden Prabowo bahwa membangun kekuatan pertahanan tidak bisa dilakukan secara instan.

"Selalu diingatkan oleh Bapak Presiden bahwa yang namanya alutsista itu kita tidak bisa beli seperti beli barang di supermarket. Begitu kita butuh, kita ingin punya, itu tidak bisa. Jadi prosesnya itu panjang," jelasnya.

Sebagai contoh nyata, ia menyebutkan pengadaan pesawat tempur Dassault Rafale. Proses dari pemesanan hingga realisasi fisik pesawat memerlukan waktu bertahun-tahun. "Seperti contoh untuk pengadaan pesawat tempur Rafale, kita pesannya kurang lebih empat tahun yang lalu sampai itu berjalan," tambah Sugiono.

Rencana Kunjungan Kenegaraan

Menutup keterangannya, Sugiono mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto direncanakan akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Prancis dalam waktu dekat. Kedekatan hubungan pribadi antara kedua kepala negara diharapkan menjadi modal kuat untuk mempererat hubungan bilateral di berbagai sektor strategis lainnya.

Kemitraan ini diharapkan mampu memperkuat kedaulatan pertahanan Indonesia sekaligus memacu lompatan teknologi industri pertahanan dalam negeri. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya