Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
INVESTIGASI terbaru terkait penembakan maut di Piramida Teotihuacán, Meksiko, mengungkap fakta mengerikan di balik sosok pelaku. Julio César Jasso Ramírez, 27, pria bersenjata yang menewaskan seorang turis Kanada dan melukai 13 orang lainnya pada Senin (20/4), ternyata terobsesi pada tragedi penembakan sekolah Columbine di Amerika Serikat serta ritual pengorbanan manusia kuno.
Jaksa Agung Negara Bagian Meksiko, José Luis Cervantes Martínez, mengungkapkan Ramírez, yang merupakan warga Mexico City, telah merencanakan aksi ini dengan sangat matang. Ia melakukan kunjungan awal ke situs arkeologi tersebut berkali-kali dan menginap di hotel terdekat sebelum melancarkan aksinya.
Penyelidikan awal menunjukkan adanya hubungan kuat antara waktu serangan dengan peringatan 27 tahun tragedi penembakan massal di SMA Columbine, Colorado, yang terjadi tahun 1999.
"Bukti yang dikumpulkan... mengungkapkan profil psikopat dari penyerang, yang ditandai dengan kecenderungan untuk meniru situasi yang terjadi di tempat lain pada waktu lain oleh orang lain," ujar Cervantes dalam konferensi pers, Selasa (21/4/2026).
Media lokal melaporkan bahwa otoritas menemukan gambar hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) di antara barang pribadi pelaku yang menampilkan sosok Ramírez bersanding dengan Eric Harris dan Dylan Klebold, pelaku penembakan Columbine. Bahkan, kaos yang dikenakan Ramírez saat beraksi dilaporkan sangat mirip dengan yang dikenakan oleh para penyerang Columbine.
Lokasi penembakan, yakni situs warisan prasejarah Teotihuacán, diduga dipilih pelaku karena obsesinya terhadap sejarah pengorbanan manusia oleh peradaban pra-Kolumbus. Kesaksian para wisatawan yang terjebak dalam "14 menit horor" tersebut menggambarkan kengerian yang mereka alami.
Jacqueline Gutierrez, seorang turis asal Amerika Serikat yang berada di lokasi saat kejadian, menceritakan interaksinya dengan pelaku kepada media Milenio.
"Salah satu hal yang dia katakan kepada kami adalah ini adalah tempat untuk pengorbanan, bukan untuk foto-foto kecil kalian... dan bahwa ini adalah peringatan pembantaian Columbine," ujar Gutierrez.
Gutierrez menambahkan mereka tidak bisa melarikan diri karena berada di atas piramida. Menurut kesaksiannya, pelaku juga mengeklaim telah merencanakan serangan ini selama tiga tahun.
Penyidik memastikan bahwa Ramírez bertindak sendirian tanpa bantuan pihak lain atau jaringan kriminal. Di lokasi kejadian, polisi menemukan berbagai literatur yang memuja aksi kekerasan dan tokoh-tokoh yang terhubung dengan jenis kejahatan serupa.
Aksi ini berakhir setelah pelaku memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri di lokasi kejadian setelah sempat terlibat kontak tembak dengan petugas keamanan. (AFP/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved