Perseteruan Beretta vs Ruger: Perebutan Takhta Industri Senjata Global

Wisnu Arto Subari
22/4/2026 05:57
Perseteruan Beretta vs Ruger: Perebutan Takhta Industri Senjata Global
Ilustrasi.(Freepik)

PERSETERUAN sengit kini tengah mengguncang industri pertahanan global. Dua raksasa produsen senjata api paling berpengaruh di dunia, Beretta Holding asal Italia dan Sturm Ruger asal Amerika Serikat, terlibat dalam konflik terbuka yang melibatkan perebutan saham, tuduhan tata kelola yang buruk, hingga diplomasi yang buntu.

Ketegangan memuncak ketika Pietro Gussalli Beretta, pemimpin dinasti senjata berusia 500 tahun, mencoba menghubungi Ketua Sturm Ruger, John Cosentino Jr. Namun, upaya tersebut dijawab dengan informasi bahwa sang ketua sedang berlibur selama sebulan penuh. "Itu tidak dapat diterima," tegas Gussalli Beretta, yang kini menguasai hampir 10% saham Ruger melalui Beretta Holding.

Awal Mula Konfrontasi Trans-Atlantik

Hubungan kedua perusahaan mulai memanas sejak September lalu, ketika Beretta secara mengejutkan mengumumkan kepemilikan 7,7% saham di Ruger melalui pengajuan resmi di Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) AS. CEO Ruger, Todd Seyfert, mengaku terkejut dengan langkah tersebut yang dilakukan tanpa komunikasi awal.

Sebagai respons, Ruger segera menerapkan strategi poison pill atau rencana hak pemegang saham pada Oktober untuk mencegah Beretta menambah kepemilikan saham secara agresif. Taktik ini biasanya digunakan perusahaan untuk menangkis upaya pengambilalihan paksa (hostile takeover).

Profil Singkat Dua Raksasa:
  • Beretta Holding: Berbasis di Italia, menaungi lebih dari 20 merek internasional termasuk Holland & Holland. Terkenal sebagai penyedia senjata standar militer AS (M9) selama dua dekade.
  • Sturm Ruger: Berbasis di Connecticut, AS. Dikenal dengan produk tahan lama dan terjangkau seperti Ruger 10/22 yang telah terjual lebih dari 10 juta unit.

Kinerja Keuangan yang Kontras

Di balik perselisihan ini, terdapat perbedaan performa bisnis yang mencolok. Saat pasar senjata api AS mengalami kelesuan pascapandemi, Ruger mencatatkan kerugian operasional sebesar US$12 juta pada tahun lalu. Sebaliknya, Beretta justru membukukan pertumbuhan pesat.

Pendapatan Beretta pada 2024 diproyeksikan mencapai US$2 miliar, hampir dua kali lipat dibandingkan angka tahun 2021. Lonjakan ini didorong oleh peningkatan belanja militer global dan akuisisi strategis di Eropa.

Indikator (2023/2024) Sturm Ruger (AS) Beretta Holding (Italia)
Status Keuangan Rugi US$12 Juta Pendapatan US$2 Miliar
Tren Saham Turun >50% dari puncak 2021 Meningkat pesat

Tuduhan dan Diplomasi WhatsApp

Beretta menuduh manajemen Ruger lebih mementingkan gaji tinggi daripada kepentingan pemegang saham. Mereka telah menominasikan empat direktur baru dan menuntut pemotongan gaji bagi direksi petahana. Di sisi lain, Ruger menuding Beretta memiliki agenda tersembunyi untuk menguasai perusahaan dengan harga murah.

Upaya rekonsiliasi sempat dilakukan di Paris dan Luksemburg, tetapi sering kali berakhir buntu. Bahkan, pembatalan pertemuan penting sempat dilakukan hanya melalui pesan WhatsApp. Ruger juga menuduh Beretta meminta diskon harga saham sebesar 15% dan mengancam akan 'berperang' jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. Tuduhan ini dibantah keras oleh pihak Italia sebagai berita palsu.

Kini, masa depan salah satu produsen senjata paling bersejarah di Amerika Serikat berada di ujung tanduk. Jika negosiasi yang sedang berlangsung melalui penasihat hukum gagal mencapai kesepakatan, keputusan akhir akan ditentukan melalui pemungutan suara pemegang saham pada rapat tahunan bulan Mei mendatang. (WSJ/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya