Jepang Waspada Risiko Gempa "Raksasa" dalam Sepekan ke Depan Pasca Guncangan Magnitudo 7,7

Thalatie K Yani
21/4/2026 09:11
Jepang Waspada Risiko Gempa
Otoritas Jepang memperingatkan risiko gempa berkekuatan Magnitudo 8,0 atau lebih tinggi dalam sepekan ke depan setelah gempa Magnitudo 7,7 mengguncang Prefektur Iwate.(AFP)

OTORITAS Jepang mengeluarkan peringatan serius mengenai peningkatan risiko gempa bumi "raksasa" dalam sepekan ke depan. Peringatan ini muncul setelah gempa bermagnitudo 7,7 melanda lepas pantai timur laut Jepang pada Senin, yang sempat memicu perintah evakuasi dan peringatan tsunami setinggi 3 meter.

Gempa yang berpusat di perairan Prefektur Iwate, sekitar 530 km di utara Tokyo, terjadi pada kedalaman 10 km. Meski gelombang tsunami tertinggi yang terukur mencapai 80 cm dan semua peringatan telah dicabut pada Senin malam, Badan Meteorologi Jepang (JMA) meminta warga tetap waspada tinggi.

Risiko Gempa Susulan Lebih Kuat

JMA memperingatkan gempa yang "menyebabkan guncangan bahkan lebih kuat" dapat terjadi dalam tujuh hari ke depan, yang berpotensi memicu gelombang tsunami yang lebih besar. Otoritas menyatakan risiko gempa bermagnitudo 8,0 atau lebih tinggi saat ini "relatif lebih tinggi dibandingkan waktu normal."

"Gelombang tsunami diperkirakan akan melanda berulang kali. Jangan tinggalkan tempat yang aman sampai peringatan dicabut," tegas JMA kepada wartawan beberapa jam setelah gempa.

Imbauan serupa disampaikan oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi yang mendesak masyarakat untuk segera bergerak ke "tempat yang lebih tinggi dan aman."

Dampak dan Evakuasi Massal

Lebih dari 170.000 orang di beberapa prefektur sempat diperintahkan untuk mengungsi. Di Hokkaido, peringatan tsunami tetap berlaku selama beberapa jam setelah gempa terjadi pada pukul 16:52 waktu setempat.

Seorang warga negara Myanmar yang tinggal di Hokkaido, Chaw Su Thwe, menceritakan suasana saat evakuasi kepada BBC.

"Segera setelah kami mendengar peringatan gempa, semua orang berlari ke lantai bawah. Saat ini, otoritas setempat menggunakan pengeras suara di lingkungan sekitar untuk memperingatkan orang-orang tentang kemungkinan tsunami dan agar tetap waspada. Pekerja kantor telah diizinkan pulang lebih awal," ungkapnya.

Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, mengonfirmasi bahwa sejumlah perjalanan kereta cepat (bullet train) sempat terganggu dan sekitar 100 rumah mengalami pemadaman listrik. Meski demikian, hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan besar atau korban jiwa.

Trauma Masa Lalu dan Letak Geografis

Jepang masih menyimpan trauma mendalam akibat gempa dahsyat tahun 2011 yang memicu tsunami dan menewaskan lebih dari 18.000 orang, serta menyebabkan kegagalan reaktor di pembangkit nuklir Fukushima.

Terletak di jalur Ring of Fire (Cincin Api Pasifik), Jepang mengalami sekitar 1.500 gempa bumi setiap tahunnya. Negara ini menyumbang 10% dari total gempa bermagnetudo 6,0 atau lebih tinggi di seluruh dunia. Sejak bencana 2011, pemerintah Jepang menerapkan protokol peringatan yang sangat ketat untuk memastikan masyarakat segera mencari dataran tinggi setiap kali ada potensi tsunami. (BBC/Z-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya