KLM Batalkan 160 Penerbangan Imbas Lonjakan Harga Avtur

Irvan Sihombing
17/4/2026 14:18
KLM Batalkan 160 Penerbangan Imbas Lonjakan Harga Avtur
lustrasi Maskapai Belanda KLM.(ANTARA News/Lukisatrio)

MASKAPAI KLM Royal Dutch Airlines mengumumkan pembatalan 160 penerbangan di kawasan Eropa untuk bulan depan. Langkah ini diambil menyusul meroketnya biaya bahan bakar jet yang membuat sejumlah rute jarak pendek tidak lagi layak secara finansial.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis Kamis (16/4), KLM menyebut telah melakukan sejumlah penyesuaian pada jadwal penerbangan untuk periode mendatang. Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya harga avtur yang berdampak langsung pada biaya operasional maskapai.

"Ini menyangkut sejumlah kecil penerbangan di Eropa yang, karena kenaikan biaya avtur, saat ini tidak lagi layak secara finansial untuk dioperasikan," demikian pernyataan KLM.

Maskapai menegaskan bahwa tidak terdapat kekurangan pasokan bahan bakar jet. Pembatalan tersebut mencakup sekitar 80 penerbangan pulang-pergi dari dan menuju Bandara Schiphol, Belanda, atau kurang dari satu persen dari total operasional KLM di Eropa selama periode tersebut.

KLM juga memperkirakan tingginya permintaan perjalanan selama musim liburan Mei. Oleh karena itu, maskapai berupaya memastikan penumpang tetap dapat mencapai tujuan mereka sesuai rencana meskipun terjadi penyesuaian jadwal.

Kenaikan biaya operasional maskapai ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik terkait konflik yang melibatkan Iran. Situasi tersebut turut memicu kenaikan harga energi global, termasuk bahan bakar penerbangan, dan mendorong sejumlah maskapai lain untuk melakukan pembatalan serta penyesuaian jadwal penerbangan. (Anadolu/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya
  • Efek Domino Konflik Timur Tengah, Harga Plastik hingga Barang Konsumsi Naik

    09/4/2026 23:22

    Konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah mulai menimbulkan efek domino terhadap perekonomian Indonesia. Gangguan pasokan bahan baku global mendorong lonjakan harga nafta hingga memicu kenaikan signifikan pada produk turunan plastik, yang kemudian merembet ke berbagai sektor, dari industri hingga kebutuhan konsumsi masyarakat.