Donald Trump Ancam Pecat Ketua Fed Jerome Powell Jelang Akhir Masa Jabatan

Thalatie K Yani
16/4/2026 05:22
Donald Trump Ancam Pecat Ketua Fed Jerome Powell Jelang Akhir Masa Jabatan
Ketegangan antara Presiden AS Donald Trump dan Ketua Federal Reserve Jerome Powell memuncak. Trump mengancam akan memecat Powell jika ia tidak segera mundur.(White House)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras untuk memecat Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. Langkah ini bakal diambil jika Powell tidak segera mengosongkan kursinya begitu masa jabatannya berakhir pada bulan Mei mendatang.

Ketegangan antara keduanya telah berlangsung lama, dipicu oleh keengganan Powell untuk memangkas suku bunga bank sentral meskipun Trump telah berulang kali melayangkan tuntutan tersebut secara terbuka.

Masa jabatan Powell resmi berakhir pada 15 Mei. Namun, ia dikabarkan berencana untuk tetap menjabat sementara hingga penggantinya, Kevin Warsh, mendapatkan konfirmasi dari Senat AS. Rencana inilah yang memicu kemarahan Trump.

"Maka saya harus memecatnya," ujar Trump kepada Fox Business saat ditanya mengenai rencana Powell untuk tetap bertahan di posisinya. "Saya telah menahan diri untuk tidak memecatnya. Saya ingin memecatnya, tetapi saya benci bersikap kontroversial."

Drama Suksesi dan Penyelidikan Kriminal

Langkah suksesi ini tidak berjalan mulus di Senat. Thom Tillis, senator Partai Republik yang berpengaruh dalam komite pengawas nominasi The Fed, mengancam akan memblokir pencalonan Kevin Warsh.

Tillis memberikan syarat berat kepada Trump: ia hanya akan meloloskan Warsh jika penyelidikan kriminal terhadap Powell terkait renovasi gedung Federal Reserve dihentikan. Namun, Trump dengan tegas menolak untuk mencabut penyelidikan tersebut.

"Tidakkah menurut Anda kita harus mencari tahu apa yang terjadi di sana? Saya harus mengetahuinya," tegas Trump merujuk pada proyek renovasi yang ditudingnya menghabiskan miliaran dolar, padahal menurut klaimnya bisa dikerjakan jauh lebih murah.

Di sisi lain, Powell menegaskan bahwa keputusannya untuk tetap menjabat hingga ada pengganti resmi adalah sesuai dengan prosedur hukum. "Itulah yang diminta oleh undang-undang. Itulah yang telah kami lakukan dalam beberapa kesempatan," kata Powell.

Dampak Pasar dan Pelanggaran Preseden

Sikap keras Trump ini menimbulkan kekhawatiran di sektor finansial. Pada 2025, pasar saham dan nilai tukar dolar AS sempat merosot ketika gagasan pemecatan Powell pertama kali mencuat. Jika Trump benar-benar mengeksekusi pemecatan ini, hal tersebut akan menjadi peristiwa pertama dalam sejarah di mana seorang Ketua Federal Reserve dipecat, sekaligus merusak independensi bank sentral yang selama ini dijaga ketat.

Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan optimisme bahwa Kevin Warsh akan dikonfirmasi sebelum tenggat waktu 15 Mei untuk menghindari gejolak lebih lanjut. "Saya yakin Senator Tillis ingin melakukan yang terbaik bagi Federal Reserve dan rakyat Amerika," ungkap Bessent di Gedung Putih.

Ironisnya, Powell adalah sosok yang ditunjuk langsung oleh Trump pada periode pertamanya tahun 2017 karena dianggap memiliki "kepemimpinan yang stabil". Namun, hubungan keduanya hancur setelah Powell dianggap mengabaikan tuntutan politik sang presiden terkait kebijakan moneter. (BBc/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya