Keberhasilan Rwanda Konservasi Gorila Hingga Dongkrak Devisa

Cahya Mulyana
08/4/2026 17:21
Keberhasilan Rwanda Konservasi Gorila Hingga Dongkrak Devisa
Gorila.(AFP)

MENTERI Kehutanan Raja Juli Antoni menghadiri peringatan Kwibuka ke-32 yang merupakan peringatan mengenang genosida di Republik Rwanda, Afrika Tengah. Menhut Raja Antoni menyoroti keberhasilan Rwanda dalam bidang konservasi lingkungan sebagai sumber inspirasi penting bagi pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.

Sebagai informasi, peringatan Kwibuka ke-32 adalah peringatan tahunan ke-32 untuk mengenang genosida yang terjadi pada tahun 1994 terhadap etnis Tutsi di Rwanda. Menhut Raja Antoni menyebut peringatan ini tidak hanya menjadi momentum refleksi sejarah, tetapi juga pembelajaran global tentang pemulihan dan pembangunan berkelanjutan.

“Perjalanan luar biasa Rwanda dalam pemulihan tidak hanya tercermin pada masyarakatnya, tetapi juga pada komitmen kuatnya terhadap pengelolaan lingkungan,” ujar Menhut Raja Antoni dalam acara peringatan Kwibuka ke-32 di Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Kehadiran Menhut Raja Antoni ke peringatan Kwibuka ke-32 ini sebagai perwakilan pemerintah Indonesia, atas arahan Presiden Prabowo Subianto. Turut hadir dalam acara, Duta Besar Rwanda Sheikh Abdul Karim Harelimana, Ketua Korps Diplomatik Africa yang juga Duta Besar Tanzania Macocha Moshe Tembele, hingga penyintas genosida 1994 Liliane Murangwayire.

Menhut Raja Antoni menyoroti salah satu contoh nyata adalah keberhasilan konservasi gorila gunung di Taman Nasional Volcanoes. Upaya ini dinilai sebagai model global dalam menjaga keanekaragaman hayati melalui kebijakan yang konsisten dan perlindungan kawasan yang kuat.

“Melalui kebijakan konservasi yang konsisten serta keterlibatan aktif masyarakat lokal, populasi gorila meningkat signifikan dan menjadi ikon keberhasilan konservasi dunia,” tuturnya.

Ia mengatakan, keberhasilan tersebut tidak hanya berdampak pada aspek ekologis, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian nasional Rwanda. Pariwisata berbasis konservasi, khususnya pelacakan gorila, menjadi salah satu sumber devisa utama negara tersebut.

“Hal ini menunjukkan bahwa konservasi dan pembangunan ekonomi dapat berjalan beriringan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Menteri Kehutanan menyoroti pentingnya tata kelola kolaboratif dalam pengelolaan kawasan konservasi. Pendekatan jasa ekosistem juga dinilai menjadi kunci keberhasilan Rwanda. Hutan tidak hanya dipandang sebagai kawasan lindung, tetapi juga sebagai penyedia manfaat nyata seperti air, penyerap karbon, dan sumber penghidupan masyarakat.

“Dengan pendekatan ini, konservasi menjadi relevan secara ekologis sekaligus bernilai secara ekonomi. Taman nasional tidak lagi dipandang sebagai pembatas ruang hidup, melainkan sebagai sumber kesejahteraan bersama,” pungkasnya. (Cah/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya