Pengamat: Gencatan Senjata AS-Iran Masih Sarat Ketidakpastian, Bisa Picu Konflik Baru

Ferdian Ananda Majni
08/4/2026 17:17
 Pengamat: Gencatan Senjata AS-Iran Masih Sarat Ketidakpastian, Bisa Picu Konflik Baru
PM Israel Benjamin Netanyahu (kiri) dan Presiden AS Donald Trump (kanan).(X)

KESEPAKATAN gencatan senjata selama dua pekan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai belum tentu menjadi jalan menuju perdamaian permanen. Pengamat Timur Tengah Smith Alhadar menilai minimnya transparansi terkait isi kesepakatan membuat situasi tetap tidak pasti.

Ia menyoroti pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menyebut penghentian perang regional tidak mencakup konflik antara Israel dan Hezbollah. Padahal, penghentian konflik tersebut merupakan bagian dari tuntutan Iran dalam 10 poin perdamaian.

Menurut Smith, kondisi ini membuka peluang konflik kembali memanas. "Artinya, perang bisa meletus kembali disebabkan sabotase Netanyahu," kata Smith dihubungi Media Indonesia, Rabu (8/4).

Ia menilai, Netanyahu berada dalam posisi sulit jika harus menghentikan perang dengan Hezbollah sebelum kelompok tersebut dilemahkan. "Pasalnya, kalau dia melakukan gencatan senjata dengan Hezbollah sebelum proksi Iran ini kalah dan dilucuti, maka Netanyahu akan jatuh, syukur-syukur tidak berujung pada pengadilan terkait isu korupsi dan pelemahan pengadilan yang dilakukannya," jelasnya.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump dinilai sebagai sosok yang sulit diprediksi. Smith menilai tekanan politik domestik di Amerika Serikat juga akan memengaruhi arah kebijakan Trump.

"Di pihak lain, Trump adalah tokoh yang unpredictable. Berikut, pendukung Republik di Senat dan DPR AS akan menekan Trump untuk mendukung Israel dalam perangnya di Libanon," terangnya.

Namun demikian, ia memperkirakan Trump justru akan mendorong Israel untuk mengakhiri konflik di Libanon.

"Tapi, saya percaya Trump akan menekan Netanyahu untuk mengakhiri perang di Libanon karena Trump dalam posisi yang lemah vis a vis Iran dalam perundingan di Pakistan pada Jumat besok," lanjutnya.

Penasihat Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) itu, juga meyakini bahwa pengalaman Iran dalam menghadapi kebijakan Trump sebelumnya membuat Teheran lebih berhati-hati dalam perundingan kali ini.

"Pasti, karena pengalaman Iran dibohongi berkali-kali oleh Trump, point ini telah dirundingkan secara tidak langsung antara AS dan Iran yang dimediasi Pakistan," ucapnya.

Selain itu, ia menilai perang yang melibatkan AS dan Israel tidak mendapat dukungan luas di dalam negeri Amerika Serikat. "Lagi pula, perang ilegal yang dilancarkan Trump-Netanyahu tidak populer di AS," katanya.

Dengan berbagai faktor tersebut, Smith berpendapat bahwa Iran akan tetap menekan AS dalam perundingan. "Jadi, saya percaya Iran akan mendesak Trump untuk mengakhiri perang di Libanon. Ini pilihan sulit tapi harus diterima sebagai realitas. Jadi, ini bukan jeda taktis tapi gencatan senjata ini merupakan pengakuan kekalahan strategis AS terhadap Iran," paparnya.

Terkait potensi eskalasi jika kesepakatan gagal, Smith menyebut bahwa perundingan dirancang berlangsung selama dua pekan, dengan kemungkinan perpanjangan jika belum tercapai kesepakatan. "Sesuai perjanjian, kalau dalam 2 minggu belum terjadi deal maka perundingan diperpanjang," sebutnya.

Ia menilai peluang Trump untuk membatalkan kesepakatan relatif kecil. "Menurut saya, kali ini nyaris mustahil Trump akan mengingkarinya karena dia tidak dalam posisi untuk melanjutkan perang yang merugikan seluruh dunia, memukul ekonomi rakyat AS, dan tidak memiliki peluang untuk menang," ujarnya.

Sementara itu, terkait pembukaan Selat Hormuz, Smith menilai langkah tersebut lebih bersifat kompromi sementara. "Pembukaan Selat Hormuz untuk sementara hanya untuk menyelamatkan muka Trump," katanya

Ia menambahkan, selama masa gencatan senjata, aktivitas pelayaran tetap berada di bawah pengawasan Iran. "Lagi pula, selama 2 minggu ini, tanker dan kargo yang memasuki Selat Hormuz harus berkoordinasi dengan militer Iran," jelasnya.

Dalam tuntutan yang diajukan Iran, Selat Hormuz disebut akan tetap berada di bawah kendali Teheran setelah konflik berakhir. Oleh karena itu, pembukaan jalur tersebut dinilai hanya bersifat sementara selama proses negosiasi berlangsung.

"Jadi, pembukaan sementara tanpa Iran meminta fee dari tanker yang masuk hanya berlaku selama perundingan berlangsung. Bila perundingan gagal, Iran akan menutup kembali selat itu," pungkasnya.

Gencatan senjata dua pekan ini dinilai belum menjamin stabilitas jangka panjang, melainkan masih menyisakan potensi eskalasi di kawasan. (Fer/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya